Night.Dream

Serba Serbi Posting

Nasihat Ayah

Nasihat Ayah

Nasihat Ayah Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Aku adalah siswi kelas XI di SMPN 121 JAKARTA UTARA. Aku mempunyai cita-cita yang tinggi. Aku bercita-cita ingin menjadi seorang guru bahasa indonesia, karena aku sangat menyukai pelajaran di bidang sastra dan bahasa. Setelah lulus SMP nanti, aku sangat ingin melanjutlan ke SMAN 75, tetapi orangtua ku tidak mendukung niat ku ini.

Saat di rumah, aku dan keluargaku sedang berkumpul di ruang tamu, ayahku mengawali percakapan dengan menanyakan nilai rapot bayangan ku yang sudah dibagikan.
“Nak bagaimana dengan nilai rapotmu? Apakah kamu puas dengan nilai rapotmu?” tanya ayah kepada ku.
“Alhamdulillah, Yah! Nilai rapotku lumayan bagus, hanya 2 mata pelajaran yang dibawah KKM” kata ku.
“Dan aku sudah cukup puas dengan nilai rapotku. Bagaimana dengan Ayah? Apa Ayah puas dengan nilai rapotku?” kata ku lagi.
“iya Nak, Ayah juga sudah puas dengan hasil belajarmu. Pesan Ayah! Agar kamu rajin belajar lagi, supaya nanti bisa masuk SMA Negeri.” kata Ayah dengan nada menasihati.
“iya Yah, aku juga inginnya seperti itu. Aku ingin masuk ke SMAN 75 kalau lulus SMP nanti.” kata ku sambil menjelaskan.
Saat aku berbicara seperti itu, sepertinya ada rasa kecewa di raut wajah Ayah. Aku jadi merasa bersalah. Suasana pun hening sejenak. Ibu ku datang memba
... baca selengkapnya di Nasihat Ayah Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Masih Ada Mukjizat Hari Ini

Masih Ada Mukjizat Hari Ini

Masih Ada Mukjizat Hari Ini Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Istri saya dan saya menggembalakan sebuah gereja. Seorang pria yang akhirnya menjadi teman baik saya, biasanya membawa putrinya yang berusia enam tahun ke sekolah minggu. Dia selalu mengantarkan putrinya dan pergi, saya bertanya-tanya dimana gerangan orang tuanya. Dia sendiri tidak pernah datang ke sekolah Minggu maupun gereja.

Suatu hari saya melompat di depan mobilnya dan menghentikan dia. Saya ingin bercakap-cakap dengannya. Ia tahu siapa saya dan itu adalah yang terakhir kali saya melompat ke depan mobilnya. Tetapi ia tancap gas dan segera melaju. Saya dengan sigap melompat kesemak semak. Ia tidak mau berbicara dengan seorang pendeta.

Suatu hari saya menerima suatu telpon, Suaranya seperti menangis. Ia berkata,”Pendeta Schambach?”

Saya bertanya ,”Siapa ini?” Itu adalah suara ayah gadis kecil itu. Saya berkata,”Oh, pasti ada masalah. Anda memanggil nama saya. Anda berusaha melindas saya ketika kita bertemu terakhir kali. Ada masah apa?”


... baca selengkapnya di Masih Ada Mukjizat Hari Ini Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1
Aku Dia Tak Sama

Aku Dia Tak Sama

Aku Dia Tak Sama Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Dentingan piano lagu Für Elise karangan Ludwig van Beethoven selalu ku dengar setiap ku memasuki rumah sepulang sekolah. Ya gadis anggun yang tengah melentikkan jarinya ke material putih hitam itu adekku namanya Mona, dia seumuranku namun beda 5 menit setelah ku lahir di dunia.
“Lisa” teriak mama
Tanpa meghiraukan suara itu, aku langsung masuk rumah dan hampir menaiki tangga.
“Lisa” teriakkan mama untuk kedua kalinya. Akupun berhenti sejenak dari langkah kaki yang telah menginjak tangga pertama.
“Tidak sopan! Masuk ke dalam rumah tanpa permisi, lihat baju kamu berantakan sekali, pulang jam segini dari mana saja kamu?” bentak mama cukup keras.
Tanpa berpaling badan aku menjawab “Bukan urusan mama”.
“Kamu ini maunya apa sih, selama ini mama cukup sabar menghadapi kamu. Tapi lama-kelamaan kamu semakin kurang ajar terhadap mama. Lihat itu Mona walaupun dia tak seberuntung kamu, dia bisa membuat mama bangga terhadapnya. Sedangkan kamu, Apa.. apa yang bisa mama banggakan!” hujat mama.
Itu.. itu.. dan itu.. yang setiap hari dan selalu kudengar dari perkataan mama, sungguh sakit mendengarnya. Aku selalu diam tanpa menanggapi ucapan itu. Namun kali
... baca selengkapnya di Aku Dia Tak Sama Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Semua Karena Kau

Semua Karena Kau

Semua Karena Kau Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Aku duduk di bangku taman sekolah, dengan memandang matahari yang begitu terik aku mengusapkan keringat yang bercucuran di kening ini. Begitu lelahnya aku sampai aku tak menghiraukan beberapa siswa yang memandangiku dengan pandangan aneh. Mungkin mereka bertanya-tanya apa yang aku sedang lakukan dengan sebuah sapu lidi yang sedang aku pegang ini atau bahkan di antara mereka ada yang menertawaiku karena tampilan ku yang begitu lusuh dan sangat tidak rapi ini. Aku tak peduli apa kata mereka karena aku benar-benar sudah sangat membenci diriku ini yang tiap hari harus mengelilingi seluruh lingkungan sekolah dengan ditemani sapu lidi yang terlihat sangat menjijikan ini. Di sini aku sudah tidak seperti murid lagi melainkan tukang kebun sekolah. Aku bosan dengan hidupku ini tapi aku nyaman dengan semua ini mungkin karena aku sudah sangat sering melakukan hal seperti ini. “Hah, aku benar-benar membenci semua ini!” teriakku
“Mengapa kau membenci semua ini?” tanya seseorang,
Aku diam, “mengapa orang ini lagi yang muncul? Apa maunya sih?” batinku
“mengapa kau malah diam?” tanyanya lagi
“apa pentingnya kau bertanya seperti itu?” tanyaku sinis
“oh, tidak apa-apa. Aku hanya heran saja ada ya orang sepertimu?” katanya dan melirik ke arahku
“apa maksudmu?”
“apa kau tak bosan hampir tiap hari kau di hukum?” tanyanya
“kalau kau ke si
... baca selengkapnya di Semua Karena Kau Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Bahaya ?Berpikir? Positif

Bahaya ?Berpikir? Positif

Bahaya ?Berpikir? Positif Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Ide menulis artikel ini muncul saat saya berbincang dengan rekan saya, Ariesandi Setyono, saat mengevaluasi mekanisme pikiran. Kami mengevaluasi pengalaman hidup kami berdasarkan berbagai buku positif yang telah kami baca. Diskusi berjalan seru, sangat inspiring dan mind challenging.

Jujur saya akui bahwa tidak mudah untuk bisa benar-benar menjadi seorang pengamat atas belief system dan proses pikiran kami. Kami harus melepaskan keterikatan dan kemelekatan terhadap berbagai informasi dan konsep yang telah kami terima selama ini, yang kami yakini sebagai hal yang benar. Bill Gould, mentor kami selalu berpesan, ”You have to challenge everything, including your own belief system or assumptions. That’s the key to quantum leap in personal growth and consciousness expansion”.

Salah satu topik yang kita bahas dengan intens adalah mengapa berpikir positif justru semakin memperburuk kinerja seseorang. Topik ini menjadi materi yang menarik untuk didiskusikan karena kami sendiri telah mengalami efek negatip dari “berpikir” positif.

Benar. Anda tidak salah baca. Kami mengalami efek negatip dari ”berpikir” positif. Namun tolong jangan protes dulu. Saya menempatkan kata berpikir dalam tanda kutip. Apa maksudnya?

Sering kali kita merasa yakin, diyakinkan, atau asal
... baca selengkapnya di Bahaya ?Berpikir? Positif Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Desainer Muda

Desainer Muda

Desainer Muda Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

“Linda, kamu di panggil Bu Virny, tuh!” ujar Milly kepada Linda yang masih sibuk dengan baju pesanan pelanggan. Linda adalah seorang remaja yang sudah bekerja di salah satu butik terkenal di Bandung.
“Bu Virny? ada apa ya, tumben…” gumam Linda. karena rasa penasaran menggelayuti pikirannya, Linda pun bergegas menuju ruang Bu Virny, sang pemilik butik.
tok… tok… tok… Linda mengetuk pintu sebanyak 3 kali.
“Masuk…” jawab sesorang dari dalam. Linda membatin, pasti Bu Virny. Linda pun membuka pintu dan mendapati Bu Virny sedang duduk santai di kursinya.
“Linda… Ibu ingin bicara sesuatu denganmu” ujar Bu Virny ketika Linda duduk di kursi yang berada dihadapannya.
“Sesuatu apa ya Bu?” tanya Linda.
“Ibu mengusulkan agar kamu menjadi perwakilan butik kita di ajang Desainer Muda besok, jadi… Ibu harap, kamu setuju, bagaimana?” jelas Bu Virny. Linda yang tidak menyangka dengan perkataan Bu Virny hanya terdiam sejenak dan mulai bicara dengan nada pelan.

“Hmmm… Bu, tapi kan… Desainer Muda itu acara yang sangat bergengsi dan pasti akan mengangkat nama butik kita jika perwakilan dari butik ini menang. apakah Ibu tidak mau mengutus desainer yang lebih berpengalaman lagi?” tanya Linda agak gugup.
“Tidak, Ibu hanya ingin memilih kamu. dan jika kamu tidak berkenan,
... baca selengkapnya di Desainer Muda Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Bayimu Di Rahimku

Bayimu Di Rahimku

Harun, Ibu dan Tantenya

Tengah hari pukul 13.00 aku kembali ke dangau setelah membersihkan diriku di pancuran kecil yang tak jauh dari ujung sawah kami. Aku memanggil Harun anakku yang selalu rajin membantuku kerja di sawah. Dua adiknya masih sekolah sedang Harun setamat SMP tak mau lagi meneruskan sekolahnya. Katanya otaknya biasa saja, biarlah dia membantuku di sawah agar kedua adiknya bisa sekolah tinggi.

Harun pun datang. Kami makan berdua di dangau itu yang tingginya dua meter, agar kalau musim padi sudah mulai berbuah atau bunting, kami bisa mengusir burung dari atas dangau itu. Pohon mentimun merembet tiggi ke atas atap dangau dari daun nipah. Kami makan dengan lahapnya dengan ikan asin dan sayur seadanya. BIasanya jika sudah makan lahap, aku suka tertidur pulas sejenak mengembalikan kekuatanku untuk bekerja kembali sampai sore.
Suamiku, seorang supir truk. Dia selalu ke luar kota dan kurang suka ke ladang. Jika tidak pergi ke luar kota membawa truknya, dia lebih suka duduk nongkrong di kedai kopi. Begitulah siang itu, anakku merebahkan dirinya pula di sisiku. Angin sepoi dan suara cicit burung, sesekali menambah persawahan kami terassa semakin sunyi pula. Suara radio kecil yang selalu dibawa ke sawah sedang mendendangkan lagu-lagu melayu yang kami suka.
Entah kenapa, saat aku berbalik ke arah anakku, tanganku berada di atas burungnya. Hup... tak sengaja aku merabanya dan ternyata burung itu sudah mengeras. Ada apaini, biswik hatiku. Untuk menarik secara langsung aku takut, anakku berpikiran lain.
"Burungku sudah besar ya, Mak?" katanya seperti berbisik padaku. Walau usianya masih 15 tahun, tapi aku merasakan apa yang dia katakan itu benar.
"Namanya, kamu mulai dewasa," kataku. Tapi tiba-tiba ada desir di tubuhku. Klentitku seperti mendenyut-denyut. Oh... tidak. Dia anakku, bathinku lagi.
Kalau aku kawain, apa aku sudah bisa punya anak, Mak?" Sulung-ku Harun kembali berdesis.
"Nampaknya sudah... Kenapa?" aku heran juga atas pertanyaannya itu.
"Kalau begitu aku mau bikin anak..."
"Kamu belum kawin kok mau bikin anak? Ada-ada saja." kataku ketus.
"Tak perlu kawin. Aku mau bikin anak sama mamak." katanya.
Aku terkejut mendengar ucapannya. Hatiku berkata keras. Pantas kalau aku mandi di pancuran dia selalu mengamatiku dan aku selama ini tak perduli toh dia anakku. Tapi keinginannya ini, membuat dadaku bergetar dan....
"Boleh ya, Mak?" rengeknya. Aku diam tak bis amenjawab. Keinginanku untuk disetubuhi semakin menyala. Tapi bukan oleh anakku sendiri.
"Maaakkkk...." rengeknya lagi. AKu masih diam. Tiba-tiba aku dipeluknya dan pipiku diciuminya serta tangannya meraba kemaluanku. Angin masih mendesau di dedaunan bambu.
"Haruuuunnnn...." kataku melarang, tapi aku tidak melepaskan pelukannya, karena hatiku ingin terus dipeluk. Harun semakin berani dan memasukkan tangannya meraba memekku dari bawah sarungku. Tangannya begitu mengelus rambut kemaluanku, aku berdesir.
"Nanti dilihat orang.." kataku seakan melarang, padahal aku was-was ada orang melihat kami. Harun diam saja dan mengangkat kain sarungku ke atas, membuat memekku terbentang sudah. Dia pun melorotkan celananya. Dangau yang berdinding hanya 35 Cm itu cukup untuk kami berdua dan tidak akan dilihat oleh sesiapapun dari bawah, terlebih ada rembetan daun-daun mentimun.
Cepat Harun menaiki tubuhku. Dengan kedua kakinya dia mengangkangkan kedua kakiku. Dia mulai menusuk-nusuk kemaluanku, tapi tak kena-kena. Aku kasihan melihatnya, sementara keinginanku untuk disetubuhi semakin menyala panas. Kutuntun burungnya ke liang memekku. Memek yang sudah basah sedari tadi itu, demikian cepat menelan burungnya. Aku memeluknya dari bawah dan Harun secara alami mulai memompa tubuhku. Aku merasa dia sudah demikian mahir memainkan diriku dari atas.
Sakin hausnya aku akan seks, aku demikian cepat orgasme dan Haruin terus memompaku sampai akhirnya dia menyemptrotkan maninya ke dalam ruang memekku. Aku begitu lega dan puas. AKu melihat Harun juga demikian, kemudian di aterlena tidur.
AKu mulai mengerjakan sawah. Setengah satu jam kemudian Harun mendatangiku dengan senyumnya yang khas,
"Terima kasih ya Mak. Semoga aku cepat dapat anak," katanya. Akuter senyum
Sore pun datang, kami mandi di pancuran bergantian. Harun lebih dulu seperti biasa. Kalau biasanya dia menungguku dan menemaniku mandi walau aku mandi pakai basahan, kali ini dia cepat ke dangau dan menyimpan segala. peralatan. Aku pun datang setelah mandi dan wangi dengan sabun yang aromnya menurutku cukup menyejukkan penciuman. Aku menaiki tangga. Begitu aku sampai dilantai dangau, tiba-tiba Harun menarik tanganku sampai aku terlentang di sisinya yang sudah melepas celananya.
"Aku masih mau," katanya sembari memelukku dan menciumiku. Aku juga cepat terbakar, entah kenapa. Mungkin karena tadi pagi aku bertengkar dengan suamiku yang diisukan orang dia punya gundik. Kami pun melakukannya lagi. Setengah jam kami bersetubuh di dangau itu. Kami pun mulai menanami padi, karena sawah sudah bersih.
TIga kali seminggu kami melakukannya di dangau pada siang hari saat matahari terik. Untung atas dangau kami dari nipah, hingga terasa sangat sejuk ditambah angin selalu sepoi. Akhirnya aku hamil. Aku mengatakannya kepada Harun, kalau dalam perutku ada anaknya. Dia senang sekali. Kami sepakat merahasiakannya, seakan anak itu adalah anak ayahnya. Harun semakin sayang padaku. Sejak udia dua bulan, bayi itu selalu kami bawa ke sawah. Kalau tidak menanam padi, kami menanam cabai dan sebagainya, sebelum musim tanah padi datang. Harun semakin raji bekerja. Kami bergantian menjaga anak kami dan bergantian bekerja. Ayah Harun juga merasa bangga pada Harun yang rajin menemaniku ke sawah. Setelah anak kami berusia setahun lebih, aku hamil lagi. Lagi-lagi Harun senang, karena anak keduanya akan lahir.
Sampai akhirnya aku melahirkan anak ketiga dari Harun, dokter mengatakan aku tak boleh lagi melahirkan karean usiaku sudah 43 tahun. Kami pun sepakat, aku dioperasi untuk tidak melahirkan lagi. Sejak saat itu, kami tidak takun lagi hamil dan kegiatan seks kami semakin menyala saja. Usiaku 43 tahun dan Harun sudah 22 tahun. Dia semakin hot saja. Siang itu kami bercerita-cerita, kenapa dia begitu sayang kepada anak tetangga kami yang dangaunya ada di seberag sawah kami. Harun mulai membuka rahasianya. Kalau pemilik dangau di seberang sana adalah adik dari ayah Harun yang mengajarinya bermain seks ketika usia harun masih 13 tahun. Harun mengatakan kalau anak laki-laki yang selalu dia gendong itu adalah juga anaknya. Kini ibu dari anak itu sudah meninggal dunia, pantas kalau Harun memperhatikannya. Aku tercenung. dalam usia sangat muda, ternyata anak sulungku sudah menghamili buklek nya sendiri atau tantenya adik kandung dari ayahnya sendiri.