Latest Post :
Recent Post

Bayimu Di Rahimku

Harun, Ibu dan Tantenya

Tengah hari pukul 13.00 aku kembali ke dangau setelah membersihkan diriku di pancuran kecil yang tak jauh dari ujung sawah kami. Aku memanggil Harun anakku yang selalu rajin membantuku kerja di sawah. Dua adiknya masih sekolah sedang Harun setamat SMP tak mau lagi meneruskan sekolahnya. Katanya otaknya biasa saja, biarlah dia membantuku di sawah agar kedua adiknya bisa sekolah tinggi.

Harun pun datang. Kami makan berdua di dangau itu yang tingginya dua meter, agar kalau musim padi sudah mulai berbuah atau bunting, kami bisa mengusir burung dari atas dangau itu. Pohon mentimun merembet tiggi ke atas atap dangau dari daun nipah. Kami makan dengan lahapnya dengan ikan asin dan sayur seadanya. BIasanya jika sudah makan lahap, aku suka tertidur pulas sejenak mengembalikan kekuatanku untuk bekerja kembali sampai sore.
Suamiku, seorang supir truk. Dia selalu ke luar kota dan kurang suka ke ladang. Jika tidak pergi ke luar kota membawa truknya, dia lebih suka duduk nongkrong di kedai kopi. Begitulah siang itu, anakku merebahkan dirinya pula di sisiku. Angin sepoi dan suara cicit burung, sesekali menambah persawahan kami terassa semakin sunyi pula. Suara radio kecil yang selalu dibawa ke sawah sedang mendendangkan lagu-lagu melayu yang kami suka.
Entah kenapa, saat aku berbalik ke arah anakku, tanganku berada di atas burungnya. Hup... tak sengaja aku merabanya dan ternyata burung itu sudah mengeras. Ada apaini, biswik hatiku. Untuk menarik secara langsung aku takut, anakku berpikiran lain.
"Burungku sudah besar ya, Mak?" katanya seperti berbisik padaku. Walau usianya masih 15 tahun, tapi aku merasakan apa yang dia katakan itu benar.
"Namanya, kamu mulai dewasa," kataku. Tapi tiba-tiba ada desir di tubuhku. Klentitku seperti mendenyut-denyut. Oh... tidak. Dia anakku, bathinku lagi.
Kalau aku kawain, apa aku sudah bisa punya anak, Mak?" Sulung-ku Harun kembali berdesis.
"Nampaknya sudah... Kenapa?" aku heran juga atas pertanyaannya itu.
"Kalau begitu aku mau bikin anak..."
"Kamu belum kawin kok mau bikin anak? Ada-ada saja." kataku ketus.
"Tak perlu kawin. Aku mau bikin anak sama mamak." katanya.
Aku terkejut mendengar ucapannya. Hatiku berkata keras. Pantas kalau aku mandi di pancuran dia selalu mengamatiku dan aku selama ini tak perduli toh dia anakku. Tapi keinginannya ini, membuat dadaku bergetar dan....
"Boleh ya, Mak?" rengeknya. Aku diam tak bis amenjawab. Keinginanku untuk disetubuhi semakin menyala. Tapi bukan oleh anakku sendiri.
"Maaakkkk...." rengeknya lagi. AKu masih diam. Tiba-tiba aku dipeluknya dan pipiku diciuminya serta tangannya meraba kemaluanku. Angin masih mendesau di dedaunan bambu.
"Haruuuunnnn...." kataku melarang, tapi aku tidak melepaskan pelukannya, karena hatiku ingin terus dipeluk. Harun semakin berani dan memasukkan tangannya meraba memekku dari bawah sarungku. Tangannya begitu mengelus rambut kemaluanku, aku berdesir.
"Nanti dilihat orang.." kataku seakan melarang, padahal aku was-was ada orang melihat kami. Harun diam saja dan mengangkat kain sarungku ke atas, membuat memekku terbentang sudah. Dia pun melorotkan celananya. Dangau yang berdinding hanya 35 Cm itu cukup untuk kami berdua dan tidak akan dilihat oleh sesiapapun dari bawah, terlebih ada rembetan daun-daun mentimun.
Cepat Harun menaiki tubuhku. Dengan kedua kakinya dia mengangkangkan kedua kakiku. Dia mulai menusuk-nusuk kemaluanku, tapi tak kena-kena. Aku kasihan melihatnya, sementara keinginanku untuk disetubuhi semakin menyala panas. Kutuntun burungnya ke liang memekku. Memek yang sudah basah sedari tadi itu, demikian cepat menelan burungnya. Aku memeluknya dari bawah dan Harun secara alami mulai memompa tubuhku. Aku merasa dia sudah demikian mahir memainkan diriku dari atas.
Sakin hausnya aku akan seks, aku demikian cepat orgasme dan Haruin terus memompaku sampai akhirnya dia menyemptrotkan maninya ke dalam ruang memekku. Aku begitu lega dan puas. AKu melihat Harun juga demikian, kemudian di aterlena tidur.
AKu mulai mengerjakan sawah. Setengah satu jam kemudian Harun mendatangiku dengan senyumnya yang khas,
"Terima kasih ya Mak. Semoga aku cepat dapat anak," katanya. Akuter senyum
Sore pun datang, kami mandi di pancuran bergantian. Harun lebih dulu seperti biasa. Kalau biasanya dia menungguku dan menemaniku mandi walau aku mandi pakai basahan, kali ini dia cepat ke dangau dan menyimpan segala. peralatan. Aku pun datang setelah mandi dan wangi dengan sabun yang aromnya menurutku cukup menyejukkan penciuman. Aku menaiki tangga. Begitu aku sampai dilantai dangau, tiba-tiba Harun menarik tanganku sampai aku terlentang di sisinya yang sudah melepas celananya.
"Aku masih mau," katanya sembari memelukku dan menciumiku. Aku juga cepat terbakar, entah kenapa. Mungkin karena tadi pagi aku bertengkar dengan suamiku yang diisukan orang dia punya gundik. Kami pun melakukannya lagi. Setengah jam kami bersetubuh di dangau itu. Kami pun mulai menanami padi, karena sawah sudah bersih.
TIga kali seminggu kami melakukannya di dangau pada siang hari saat matahari terik. Untung atas dangau kami dari nipah, hingga terasa sangat sejuk ditambah angin selalu sepoi. Akhirnya aku hamil. Aku mengatakannya kepada Harun, kalau dalam perutku ada anaknya. Dia senang sekali. Kami sepakat merahasiakannya, seakan anak itu adalah anak ayahnya. Harun semakin sayang padaku. Sejak udia dua bulan, bayi itu selalu kami bawa ke sawah. Kalau tidak menanam padi, kami menanam cabai dan sebagainya, sebelum musim tanah padi datang. Harun semakin raji bekerja. Kami bergantian menjaga anak kami dan bergantian bekerja. Ayah Harun juga merasa bangga pada Harun yang rajin menemaniku ke sawah. Setelah anak kami berusia setahun lebih, aku hamil lagi. Lagi-lagi Harun senang, karena anak keduanya akan lahir.
Sampai akhirnya aku melahirkan anak ketiga dari Harun, dokter mengatakan aku tak boleh lagi melahirkan karean usiaku sudah 43 tahun. Kami pun sepakat, aku dioperasi untuk tidak melahirkan lagi. Sejak saat itu, kami tidak takun lagi hamil dan kegiatan seks kami semakin menyala saja. Usiaku 43 tahun dan Harun sudah 22 tahun. Dia semakin hot saja. Siang itu kami bercerita-cerita, kenapa dia begitu sayang kepada anak tetangga kami yang dangaunya ada di seberag sawah kami. Harun mulai membuka rahasianya. Kalau pemilik dangau di seberang sana adalah adik dari ayah Harun yang mengajarinya bermain seks ketika usia harun masih 13 tahun. Harun mengatakan kalau anak laki-laki yang selalu dia gendong itu adalah juga anaknya. Kini ibu dari anak itu sudah meninggal dunia, pantas kalau Harun memperhatikannya. Aku tercenung. dalam usia sangat muda, ternyata anak sulungku sudah menghamili buklek nya sendiri atau tantenya adik kandung dari ayahnya sendiri.

Ibu Diperkosa Anak Kandung

Namaku Tini, usia 49 tahun, saat ini aku tinggal di kota Cirebon. Tetangga kiri kananku mengenalku dengan sebutan bu Haji. Ya, di blok komplek rumahku ini, hanya aku dan suami yang sudah naik Haji. Suamiku sudah pensiun dari Departemen Luar Negeri. Kini ia aktif berkegiatan di masjid Al Baroq dekat rumah. Aku pun aktif sebagai ketua pengajian di komplek rumahku ini. Tetangga kami melihat keluargaku adalah keluarga
harmonis. Namun mereka bertanya-tanya, mengapa anakku masih kecil, masih berusia satu tahun, padahal aku sudah berusia hampir 50 tahun. Aku bilang saja, yah, maklum, rejeki datang lagi pas usia saya senja begini, mau diapakan lagi, tidak boleh kita tolak, harus kita syukuri.

Sebenarnya aku punya anak lagi, anakku yang sulung, laki-laki, dan saat ini mungkin ia sudah berusia 26 tahun. Namanya Roni. Sebelum kelahiran anakku yang masih bayi ini, Roni adalah anak tunggal. Sampai akhirnya aku usir dia dari rumah ini dua tahun yang lalu. Dan sampai detik ini, suamiku, Beny, atau orang akrab memanggil dia Pak Haji Beny atau Pak Ustad, ia belum tahu alasan mengapa Roni meninggalkan rumah sejak dua tahun yang lalu itu, jika suamiku bertanya padaku, aku terpaksa berbohong, bilang tidak tahu dan pura-pura kebingungan. Walaupun aku tahu, karena akulah yang mengusir Roni dari rumah tanpa sepengetahuan suamiku.

Cerita sedih ini berawal ketika Roni yang selama 15 tahun kami tinggalkan hidup dengan Neneknya di Cirebon, akhirnya kumpul bersama dengan kami layaknya keluarga. Bisa aku tinggalkan selama 15 tahun karena aku dan suami harus tinggal di Belanda. Saat aku dan suami ke Belanda, Roni baru berusia delepan tahun, ibuku (nenek Roni) tidak ingin jauh dari Roni, beliau mungkin takut Roni akan terbawa arus kehidupan eropa dan lupa adat indonesia. Jadilah Roni tinggal di Cirebon bersama ibuku, lalu aku dan suami tinggal di Eropa.

Lima belas tahun kemudian, aku dan suami pulang ke tanah air, sebelum pulang aku dan suami menyempatkan diri untuk naik haji. Setelah pulang menunaikan haji, aku dan suami pulang ke tanah air dan pergi ke Cirebon. Tak kusangka anakku sudah besar, ya Roni telah berusia 23 tahun. Kami lihat ia tumbuh menjadi anak yang sangat soleh, santun dan lemah lembut.

Aku sangat berterima kasih dengan ibu waktu itu, telah membuat Roni tetap menjadi anak yang baik dan rajin beribadah. Beberapa bulan setelah kami berkumpul bersama, ibuku (nenek Roni) meninggal. Kami sedih sekali waktu itu.Setelah itu kami hidup sekeluarga bertiga.

Kehidupan keluarga kami sangat sakinah mawadah dan rohmah. Aku bangga sekali punya anak Roni. Ia rajin ke mesjid dan mengaji. Hal itu membuat aku dan suami selalu merasa bahagia. Seakan-akan kami awet muda rasanya.

Kebahagiaan ini juga mempengaruhi kemesraan aku dan suami sebagai suami istri. Walaupun kami sudah tua, tapi kami masih rutin melakukan hubungan pasutri meski hanya satu minggu sekali. Sampai suatu hari, suamiku mendapat tugas dari untuk dinas selama tiga bulan di Qatar. Suamiku mengajak kami berdua (aku dan Roni anakku) namun Roni yang sudah kerasan tinggal di Cirebon menolak ikut, akupun karena tidak mau lagi jauh dengan anakku menolak ikut. Akhirnya hanya suamiku sendiri saja yang pergi.

Hari-hari tanpa suamiku, hanya aku dan anakku tinggal di rumah kami. Aku sibuk sebagai ketua pengajian ibu-ibu dan memberikan ceramah kecil-kecilan setiap ada arisan di komplek rumahku ini. Roni aktif sebagai remaja masjid di masji Baroq dekat rumah. Terkadang karena aku sudah berusia hampir 50, aku mudah merasa capek setelah berkegiatan.

Suatu siang aku merasa sangat capek, sehabis pulang memberikan ceramah ibu-ibu di masjid. Aku pun langsung tertidur. Saat aku tengah-tengah enaknya merasa nyaman dengan kasurku, aku seperti merasa ada sesuatu yang membuat paha, pinggang dan daerah dadaku geli dan gatal. Setengah sadar dan tidak sadar, aku lihat Roni sedang berada di dekatku. Sambil setengah ngantuk aku berkata, "Kenapa Ron? Mama capek nih..."
"Ga, ma, Roni tahu, makanya Roni pijetin, udah mama tidur aja", balas Roni.
Aku senang mendengarnya, senang pula punya anak yang tumbuh dewasa dan baik seperti Roni. Oh terima kasih Tuhan.

Lama kelamaan, aku mengalami hari yang sangat aneh, terutama setiap malam saat aku tidur. Aku merasa, ada sesuatu yang menggelitik daerah sensitifku, terutama daerah selangkanganku. Enak sekali rasanya, oh apakah ini setengah mimpi yang timbul akibat hasratku sebagai seorang istri yang butuh kehangatan suami. Ya, aku yakin karena aku ditinggal suami saat aku lagi merasa kembali muda dan penuh gairah, makanya aku sering sekali mimpi basah setiap malam. Mimpi yang rasanya sadar tidak sadar, kenikmatannya seperti nyata. Ya, aku menjadi senang tidur malam, karena ingin cepat-cepat mimpi basah lagi. Aku menduga ini adalah rejeki dari Tuhan, agar gairahku sebagai istri tetap terjaga, dan kebutuhan biologisku tetap tersalurkan walaupun hanya diberi mimpi basah sama Tuhan. Oh... nikmat sekali. Aku membayangkan suamiku, Beny, yang berhubungan denganku, oh nikmat sekali. Dan karena seringnya dikasih mimpi basah oleh Tuhan, setiap pagi aku bangun aku merasa kemaluanku selalu basah kuyup sampai celana dalamku basah total. Yah, jadinya aku punya kebiasaan baru selalu mandi wajib setiap pagi. Yang aku takuntukan hanya satu, takut saat aku mimpi basah, aku mengigau dan takut suara mendesahku terdengar anakku Roni. Tapi saat aku liat dari gelagatnya sehari-hari, nampaknya ia tidak tahu.

Sampai tiga bulan lamanya, hampir tiap malam aku selalu mimpi basah, aku jadi heran. Apa penyebabnya dari nutrisi yang kumakan atau kuminum sehari-hari ya? Hmm, mungkin saja. Soalnya aku punya kebiasaan minum teh hijau sebelum tidu. Kata dokterku itu baik untuk orang setua aku, apalagi biar selalu sehat menjelang usia setengah abad. Akhirnya aku coba meminum teh hijau, saat pagi hari, malamnya kucoba tidak minum.

Malam harinya, saat aku tidur, ditengah asyiknya tidurku, dan gelapnya lampu kamarku. Aku merasa perasaan mimpi basah mulai datang kembali, yah, mmh, rasanya ada yang menggelitik kemaluanku, sesuatu yang lembut, oh, bergerak-gerak. Selangkanganku pun ikut tergelitik hingga aku merasa ada sesuatu yang membuat basah kemaluan dan selangkanganku. Lalu berbarengan dengan rasa sensasi pada daerah kemaluanku, sesuatu yang lebut bergerak-gerak menyentuh buah dadaku, bergantian, pertama yang kiri lalu yang kanan, kemudian.. Aw!.. Ada rasa hisapan yang lembut hangat namun kuat pada puting buah dadaku yang sebelah kanan. Oh enak sekali, terima kasih Tuhan, jantungku mulai berdegup kencang, ini rasanya seperi nyata, yah! Tiba-tiba aku merasa tertindih oleh seuatu, hisapan kenikmatan juga tidak berhenti. Lalu ada sesuatu yang menusuk masuk ke liang kemaluanku saat itu aku setengah sadar terbangun, dan aneh, rasa ini masih kurasakan, setengah sadar aku jelas sekali ternyata memang ada sesuatu yang menindihku, sekilas aku masih membayangkan ini suamiku, berikut terdengar dari sesuatu itu suara perlahan yang serak, "ooohgh... Oogghh..."

Siapa ini?! Astaghfirullah!! Saat aku tersadar penuh dan mataku terbelalak. Dalam keremangan gelapnya kamar aku sadar bahwa seseorang telah menindihku dan menyetubuhiku!! Lebih kaget lagi saat aku mendengar suara seseorang yang menindihku itu berkata, "Maaah... Ayo ma... oughhgh... Uhhh... mamahhh..."

Langsung kudorong dia kuat-kuat!
"Roni!! Kurang ajar!!! ASTAGHFIRULLAAH!!"

Roni langsung berlari keluar kamar, aku pun langsung mengejar sambil menangis penuh amarah.
"Roni!!", bentakku.
"Maafin Roni Ma! Roni ga tahan!", Roni pun menangis takut.
Aku tak kuasa bingung menghadapi perasaan ini, antara kalut, marah, benci, jijik, sedih dan takut. Hingga terucap kata-kata yang langsung keluar dari muluntuku, "Keluar dari rumah ini!!! Kamu bukan anak mama!!! Setan kamu! Binatang kamu ya!"

Roni keluar rumah berlari. Aku duduk lemas menangis. Jadi, selama tiga bulan ini, baru aku sadari, mimpi basah itu bukan hanya sekedar mimpi.
Semua mimpi itu nyata. Anakku!? Anakku sendiri yang melakukan ini padaku?!!

Selama dua, tiga minggu aku tidak keluar rumah, bahkan semenjak kejadian itu aku jatuh sakit. Sampai saat itu aku masih tidak habis pikir dan belum lupa kejadian itu, dalam benakku terbesit, ya Tuhan, selama ini anakku telah menodai aku, aku ibunya, selama ini anakku yang selalu rajin beribadah ternyata adalah setan yang mengumbar nafsunya pada tubuhku yang mulai renta ini... Dosa apa hamba, ya Tuhan!?

Saat aku menerima sepucuk surat yang dikirim oleh Roni, tanpa alamat jelas, ia berkata meminta maaf pada ku, ia mengakui bahwa ia sudah mulai tertarik secara seksual denganku sejak aku bertemu lagi dengannya, ia bilang aku cantik dan menarik, ia mengaku telah memberi obat tidur pada teh hijau yang selalu aku minum tiap malam agar aku teler dan tidak sadar saat ia memperkosaku... Pantas saja! Pantas ia selalu bermuka manis menyiapkan teh hijau tanpa kuminta terlebih dahulu. Ternyata selama ini anakku adalah Iblis laknat yang merusak semuanya. Roni pun berkata pada akhir suratnya, bahwa ia tidak lagi akan pulang ke rumah, ia malu dan merasa bersalah.

Membaca surat itu, aku merasa benci sekali! Ya, "Kamu bukan anakku!", Kurobek dan kubakar surat itu.

Sebulan kemudian, tepat saat dua minggu sebelum suamiku pulang, aku merasa pusing dan mual. Ya Tuhan, masa sih aku hamil!? Tidak! Ini tidak mungkin!! Aku pun memastikan dengan membeli dan menggunakan tes kehamilan, berdebar-debar aku melihat hasilnya. ASTAGHFIRULLAH! Aku positif hamil! Tidak! Aku menggandung anak dari anakku sendiri!

Aku pun lemas dan sempat sedikit pingsan. Aku menangis tiada henti-hentinya. Apa yang harus kukatakan pada suamiku nanti? Apa yang akan tetangga bilang jika tahu aku ini seorang bu Haji yang hamil hasil hubunganku dengan anak kandungku sendiri? Apa yang akan terjadi! Apa lebih baik aku mati saja!! Tidak aku tidak mau mati! Itu dosa!

Lalu, saat suamiku pulang, aku tutupi semuanya yang telah terjadi selama tiga bulan ini. Aku pura-pura menangis karena Roni belum pulang-pulang sudah dua minggu. Lalu aku dan suami sempat lapor ke polisi. Di tengah-tengah itu, aku juga pura-pura merasa kangen dengan kedatangan suamiku dan mengajaknya melakukan hubungan suami istri sesering dari biasanya. Suamiku heran, namun ia maklum, ya yang pikirnya, biasanya aku dan dia berhubungan seminggu sekali, ini tidak melakukannya dalam tiga bulan lamanya. Sudah pasti wajar jika aku selalu minta berhubungan terus.

Dua minggu setelahnya, aku mengaku hamil. Suamiku kaget, loh, khan menggunakan kondom? Kok bisa. Aku bilang saja, mungkin saja jebol. Khan wajar karena kondom tidak akurat 100%. Suamiku pun mengangguk setuju. Cuma ia hanya khawatir apakah aku tidak apa-apa umur segini hamil lagi. Akupun meyakinkan dia tidak apa-apa, walaupun hatiku meringis dan menangis karena mengingat bayi ini hasil hubunganku dengan anakku. Tidak! Anakku yang memperkosa aku!!!

"Ma", sapaan suamiku menyadarkan aku dari lamunanku tentang masa lalu. Aku lihat suamiku sudah siap berangkat ke masjid.
"Ma, aku pergi ke masjid dulu ya, mama biar jaga si kecil yah", pamitnya.
"Iya pa", jawabku.

Ya, si kecil ini telah lahir ke dunia. Saat ini ia berada di pangkuanku. Kuperhatikan wajahnya. Mirip sekali dengan Roni, anakku... Oh bukan... Ayah dari anakku. kkk

Hal-hal yang menimbulkan ketidakpuasan dalam bercinta

Dalam sebuah hubungan intim, bukan hanya kepuasan lahiriyah saja yang dicari namun unsur "perasaan" juga ikut menentukan. Bahkan beberapa perilaku yang tidak dikendaki dapat merusak sebuah hubungan antara pasangan suami-istri atau dapat menimbulkan kegagalan dalam bercinta. Berikut ini beberapa perilaku seks pria yang harus dihindari saat melakukan hubungan intim.

1. Tidur Setelah Bercinta

Hubungan intim yang sempurna bukan saja memperhatikan saat-saat bersenggama saja tetapi juga setelah selesai. Kebiasaan pria yang langsung tidur setelah berhubungan intim dengan pasangannya merupakan sebuah perilaku yang salah. Hal itu dapat membawa dampak psikis yang besar. Karena bagi wanita kebersamaan dan keharmonisan setelah bercinta adalah yang dicari. Karena wanita membutuhkan kedekatan, belaian dan kelembutan dari seorang pria apalagi sehabis bercinta.

2. Tidak mengerti teknik bercinta

Dalam menerima rangsangan, pria memang berbeda dengan wanita. Hanya dengan melihat gambar erotis atau melihat seorang wanita yang seksi itu sudah cukup membangkitkan libido seks pria. Sedangkan wanita perlu rangsangan pada titik-titik sensitif di tubuhnya untuk membangkitkan gairahnya. Karena itu sangatlah penting bagi seorang pria untuk mengetahui teknik dan cara bercinta agar bisa memuaskan pasanganya.

3. Desah saat Bercinta

Bagi wanita, adalah suatu kepuasan lebih jika dapat memuaskan pasangannya. Apalagi jika disaat berhubungan seks, pasangannya menampakkan kepuasan dan menunjukkan kenikmatan dengan bersuara penuh nafsu.

4. Tidak menjaga Kebersihan

Kapan dan dimanapun kebersihan adalah hal yang sangat penting. Harus diakui bahwa wanita cenderung lebih menyukai kebersihan di bandingkan pria. Dan hal ini harus dipahami oleh pria dengan membiasakan diri untuk bersih apalagi sebelum bercinta. Bau mulut dan keringat bisa menimbulkan gangguan saat bercinta. sementara tubuh yang bersih dan segar akan memberikan rasa rileks, gairah dan kenikmatan yang lebih besar saat bercinta.

Amalia di Toilet

Ini dia Cerita Dewasa yang bercerita tentang Gadis SMA bernama Amalia yang bikin aku merem melek. waktu itu adalah hari ulang tahun sekolah tempat gue belajar 2,5 tahun belakangan ini. hari jadi sekolah merupakan hari yang sangat bahagia bagi kami siswa siswi yang sekolah disana kerana kami semua ga dapet belajar tentunya dan udah dari 3 hari sebelumnya melakukan berbagai persiapan untuk acara hari itu!
Cerita Sex amalia di toilet

cerita sex,cerita dewasa,cerita mesum,cerita ngentot, ngentot artis, cerita bokep
pada hari jadinya sekolah kami mengadakan berbagai acara yang sangat heboh dan ga kalah seru pastinya sob! mulai dari pentas musik aneka band, aneka lomba2 seperti lomba antar kelas sampai lomba modern dance. Namun lomba modern dance ini tidak diadakan antarkelas, tetapi antarangkatan yang membuat acara ini seru adalah suporter dari masing2 kelas dan angkatan yang saling adu mulut sampai adu jotos untuk team yang mereka jagokan!biasalah anak muda seperti kami egonya lagi tinggi-tingginya

Ok kembali ke acara ulang tahun sekolah gue ini dimulai dari pukul 9 pagi. Namun gue datang pukul 11 siang!hehe.. maklum lah anak bandel yang suka nyari sensasi dan sengaja gue datangnya telat hanya untuk nonton band2 ibu kota dan menyaksikan lomba modern dance saja. Dan akhirnya saat yang dinanti datang juga.

Modern dance angkatan kelas 3 yaitu angkatan gue sendiri yang beranggotakan 5 orang. Namun yang gue kenal dekat hanya melia yang memiliki nama lengkap Putri Amelia Candra. ohhh ya gw kok sudah mengenalin orang lain padahal gue aja belom kenalan!he..nama gw ryo sob nama panjangnya ga usah deh ya jelek soalnya :P

Acara pun dimulai dari penampilan kelas 1 lalu iikuti kelas 2 dan yang menjadi penutup adalah kelas 3. Mereka mulai masuk ke tengah lapangan. Pakaian yang mereka kenakan cukup seksi. Walaupun di bagian perutnya tidak terbuka. Pakaian yang mereka kenakan cukup ketat pastinya, menonjolkan payudara payudara mereka yang baru ‘tumbuh’.

Cukup membuat mata murid murid lelaki melotot. Dengan diiringi lagu-lagu techno mereka semua yang muda belia seumuran gue meliak-liukan badannya dengan seksi. Seiring lompatan atau gerakan seksi mereka payudara mereka bergoyang-goyang indah dan bergetar-getar!indahnya serasa dunia saat itu

Mata saya hanya tertuju pada melia. Selain karena wajahnya yang cantik, ia juga memiliki payudara yang cukup seksi tentunya. Rambutnya yang tergerai panjang menambah seksi tubuh indahnya. Walaupun ada pula teman 1 tim dancernya yang saya pikir cukup bohai juga.

Mulai dari payudara yang lebih besar dari melia, ia juga memiliki paha yang gempal. Namun perhatian gue tetap tertuju pada melia. Wajar aja gue merhatiin terus, menurut gue dia cewek paling seksi secara fisik maupun non.Setelah mereka bermodern dance ria & membangkitkan gairah pada laki-laki, dengan keringat bercucuran di kening, leher & bagian-bagian lainnya, mereka segera berganti baju.

melia segera menuju kelas untuk kembali mengenakn seragamnya. Seiring langkahnya berjalan, payudaranya yang baru tumbuh bergoyang-goyang. Kemudian setelah ia mengambil pakaian ganti dari tasnya, ia pun menuju ke wc untuk berganti baju.

Lalu gue ikutin dia dr belakang. Terlihat, tali branya nyeplak karena keringat yg basah ke tubuhnya. wowww sedapnyo. Setelah masuk itu, ia masuk ke kamar mandi. Tanpa ia sadari bra dan celana dalemnya yg berwarna hitam jatuh di depan pintu kamar mandi.

Gue pun langsung saja mengambil bra an cdnya yang jatuh tersebut dan langsung gue pegang. Gue pun masuk ke kamar mandi cowo dengan tujuan mau kencing tanpa maksud untuk menyembunyikan ke dua barang tersebut. Di dalam pikiran gue, gue akan berikan setelah gue kencing.

Setelah gue kencing, gue liat amelia mondar-mandir di sekitar kamar mandi. Langsung aja gue tegor,
“Nyari apa melia?”
“Eh lo ryo, ini nih gue nyari bh sm cd gue, lo lyat gak?”
“Ohhh, ini mksd lo?” Langsung gue tunjukin bra dan cdnya.
“Iya, ni dia yg gue cari. Ni lo nemu dimana?”
“Ni tdi jatoh. Lo ga tau…”
“Oh yawdh, thanks ya ryo.
“Iya sm2 melia.”
“Ywdh deh, gue mo ganti baju dulu yah. Gerah banget nih.”
“Ngapain melia?”
“Ganti baaajuuu… knp?? Mo ikuuut??” Tanya amelia nakal.
“Hhhee. Emg boleh melia??”
“Hmmm…” dia ngeliat ke sekitar. Setelah itu dia langsung nyruh masuk gue untuk 1 kamar mandi dengannya.
“Ywdh yuk masuk.”
“melia, gue mo kencing dulu yah. Lo jangan ngintip.” Langsung gue buka clana gue sambil ngebelakangin amelia. Trus kencing. dan Tiba-tiba melia berkata
“Oh my god. Gede banget ryo barang (Kontol gue) lo” Gue pun kaget.

“melia, dibilang jangan ngintip. Ko ngintip sih?”
“Hhehe. Sori ryo, abis gak sengaja… hehee boong ding, gue penasaran aja pengen liat…”
“Ah, dsar lo melia. Ywdh, ganti baju tadi katanya mo ganti baju?”
“Ywdah”Gue pun memakai clana gue lagi.
Amelia pun sibuk membuka baju dancenya. Trus celananya. Trus branya. Lalu cdnya.
Gue pun merhatiin semuanya.
“Eh ryo, jgn ngeliatin ke sini dong.” Sambil ia menutupi toketnya yg sekel dengan tangan kirinya. Trus memiawnya juga ditutupin sama cdnya yang baru dibuka.
“Hehehe. gue penasaran juga melia…”
“Penasaran??”
“Iya”
“Lo juga tadi penasaran sama barang gue kan?”
“Iya sih” sambil ia senyum-senyum.
“melia, gue mo remes2 toket lo dong. Boleh ga?”
“Ha? Tai lo ryo. Emang lo siapa gue!!”
“Bentar aja melia”
“Tapi gue juga pegang2 barang lo ya ryo? Biar adil.”
“Oh yawdah”dan gw pun ngebuka resleting gue. Nyingkap CD gue. Trus ngeluarin Kontol gue.
Gue dengan semangat ngeremes2 toket amelia yg sekel. Tapi dia agak takut2 buat megang Kontol gue.
“Knp melia? Pegang dong… gue aja udah megang toket lo nih. Sekel banget sih melia toket lo?”
“Ihh, gue baru pertama nih megang barang cowo. Hahaha.”
“Sstt. Jgn kenceng2 ktawanya…”

dan gue mencoba membawa tangannya buat megang Kontol gue secara pelan2 dan sedikit paksaan akhirnya, Kontol gue pun tersentuh oleh tangan amelia.

“Oowwhhh… kocok2 dong melia…” Pinta gue.

Dia pun agak malu2 pas mau ngocok Kontol gue.
Akhirnya pelan2 dia kocok Kontol gue. gue pun sambil ngeremes2 toket dia.

cerita sex,cerita dewasa,cerita mesum,cerita ngentot, ngentot artis, cerita bokep
“Owwhhh… enak melia… agak kenceng dong megangnya…”
“Iya… ohh gede bgt sih ryo?? Lo dah ngaceng ya nih??”
“Iya udah lah. Secara gue ngeremes2 toket lo udah nafsu gini. Pasti dah ngaceng.”
“melia… gue isep yah toket lo??”
“Ihh, gila lo ah.”
“Bentar…”
“Ywdah… nih…” ia pun menyodorkan toketnya ke mulut gue. Tapi ia ngelepasin kocokannya dari Kontol gue.
“melia, sambil kocokin Kontol gue juga dong. Jangan berenti…”
“Uwhh… iya iya… cerewet lo ahh…” Dia pun ngocok Kontol gue agak cepet.
“Aahhhh… ohhhh… enak meliaa…” suara gue mendesah. Trus gue kenyot2 toketny.
“Ahhh… yg cepet lagi melia… oohh… uuhhh… ssshhh…” sambil gue kulum lehernya, trus ke bibirnya.
“melia, sepongin dong sebentar…”
“Ha?”
“Sepongiiin… masukin Kontol gue ke mulut lo… trus kocokin pake mulut lo…”
“Aaahhh!! Gak ahh!! Pake tangan aja yah ryo? Nnti kpn2 deh.” Amelia nolak.
“Bentar meliaa… pengen nihh…” gue memohon.
“Ah lo ryo. Ywdah, tp bentar aja ya”
“iya, sampe keluar…”
“Ahh, tp peju lo jgn dikeluarin dimulut gue!!”
“Iya, gak… nnti kalo gue dah mau muncrat gue cabut Kontol gue dari mulut lo…”
“Yaudah, maen cepet yaa. Takut dicurigain nih gue ntr sama anak2 yang laen.”
“iya” jwab gue.

Amelia pun jongkok di depan gue. Mulutnya pas banget udah berhadepan sama Kontol gue.
Gue pun menyodorkan Kontol gue ke mulutnya. Amelia pun tanpa ragu lagi membuka mulutnya lebar2. gue terus dorong semua Kontol gue masuk ke mulutnya amelia. Setelah itu dia rapetin mulutnya dan mulai menggerakan mulutnya maju mundur sambil skali2 mainin lidah dan bibirnya buat mijet2 Kontol gue.

Kontol gue kerasa agak2 anget. Trus juga ada rasa2 lembek2 enak yg berasal dari lidahnya.
Itu semua gue imbangin dengan ikut gerak2in Kontol gue maju mundur.

“Ooohh… meliaaa… enaaaaaakkk… mmmhhhhhh… ooohhh… sshhhh…” sambil gue belai2 rambutny yg ga terlalu panjang.
“Mmmhhhhh… mmmmhh… mhhhh…” amelia pun mendesah smbil terus nyepongin Kontol gue.
“Ooohhhhhhhhh… teeruusss meliaaaa… ooohhh… eeennnaaakkk… terus melia…”
“Mmhh… mmhhhh…”
“Cepetin lagii meliaaa…” pint ague.
“Mmmhhh… mhhhh… mmmhhhhhhmmhhhh…” amelia pun sedkit agak kewalahan nyepongin Kontol gue.
“Aaahhhh… ooouhhhcchhh… enak meliaaa… oowwwhhhwwwwwhhh… sshhhhhh”

Amelia pun semakin mempercepat kocokan mulutnya di mulut gue. Gue pun mengimbangin dengan memajumundurkan Kontol gue di mulutnya.
Saking terasa cepatnya. Akhirnya gue udah ngerasain kalo peju gue mau keluar.

“Aaohhh… meliaa… gue mau keluar nihhhh…”

Dengan cepat dia ngelepasin mulutnya dari Kontol gue. Trus dia berdiri dari yg sebelumnya pas nyepongin gue dalam posisi jongkok. Gue pun meraih tangan kanannya. Trus gue tuntun buat megang Kontol gue yang udah ngaceng banget krn mau keluar.

“Kocokin yang cepet melia…”

Amelia pun mengocok Kontol gue cepet. Pas dia lagi ngocokin Kontol gue, gue kissing bibirnya yang imut2, sambil kadang2 gue remes2 toketnya yang sekel gak terlalu gede.

Akhirnya setelah kira2 3 menit dikocokin pake tangannya.
“Aaarrghhhh… cchhaaaaaa… gue mauuu keluarrrrr nihh…”
“Uwwhh, ywdah keluarin aja ryo…” dia pun ngarahin Kontol gue ke wc biar peju gue nnti langsung ke buang ke lubang wc tanpa berceceran di lantai.
“Aaarghhh… oooooooooouhhhhhhhh… sssssssshhhhhhhhhhh… aaaaah… gue keluar meliaaa…” akhirnya peju gue pun keluar. Peju gue muncrat 7x. dari mulai banyak sampe keluar setetes setetes.

“Oouhwwww… gila ryo, banyak banget peju lo… duuhh kena tangan gue lagi nih…” amelia pun ngelepasin tangannya dari Kontol gue. Trus dia ngebersihin tangannya yang kena peju gue sedikit pake aer di gayung.
“Uuffhh… iya nih melia, udah lama sih gue gak colai… tapi akhirnya sekarang gue malah dicoliin sama lo… capek nih melia… melia bersihin dong peju gue nih dikit lagi pake mulut lo…” pinta gue kea ca.
“Apa?” amelia kaget.

“Jilatin dikit nih ujung Kontol gue, kan masih ad sisa2 pejunya…”
“Ih males. Gak ah. Jijik gue.”
“Yah, tanggung nih melia… dikit lagi”
“Gak. Nnti aja yah kapan2 ryo…” amelia memberi harapan.
“Huh. Dsar lo melia. Tanggung juga nih. Ywdah deh.”
“Nih gue bersihin peju lo yang di sini aja nih.” Kata Amelia sambil nyiramin aer ke dalem wc yang sebelumnya banyak peju gue.

Setelah nyiramin peju gue yang berceceran di wc, amelia pun kembali berganti baju. Begitu juga gue. Gue pun memakai celana dalem gue lagi kemudian resleting celana panjang gue.
Gue perhatiin amelia. Ia kleiatan seksi banget. Satu persatu ia kenakan pakaiannya. Mulai dari celana dalemnya yang berwana hitam. Branya yang juga berwarna hitam. Namun ia agak kesulitan saat akan mengaitkan branya. Lalu ia pun meminta tolong gue.

“ryo tolong pakein dong.” Ia pun membelakangi gue meminta mengaitkan pengait branya.
“Tapi ada syaratnya yaa…” ucap gue ngeledek.
“Syarat apaan?”
“Tebak dong”
“Hmmm apa ya. Ga tau ah! Udah cepetan pakein!!” ia pun agak sedikit ngotot.
“Itu tuh.” Gue pun menunjuk ke arah memiawnya.
“Ohh ini… lo mau ngewe sama gue?” amelia pun bertanya dengan nada agak sedikit kaget.
“Iaa, gue pengen ngewe sm lo melia… blh ga?”
“Anjjrriitt lo ryo, apa masih kurang yg skrg?”
“Kurang laaaah… gue mau nyicipin tubuh lo pake Kontol gue…”
“Aaaaaaaahhh!”
“Sssstt, jgn kenceng2 melia… Ayoo dong meliaaaa… kpn2 yaaahh?? Ga sekarang kok…” ucap gue memohon lagi.
“Gue masih virgin laaahh ryoo.”
“Ahh yakinnn lo??”
“IYA!”
“Kalo dari toket lo yg gue pegang tadi sih kayanya lo udah ga virgin deh…”
“Hah? Tau dari mana lo???”
“Ya tau laaahh, kalo toket cewe yang udah ga virgin tuh udah agak kendor sedikit, ga terlalu sekel banget…”
“Hahhha gila ya lo, kayanya udah ahli banget nih soal beginian”. Sambil dia sibuk merapikan bajunya.
“Iya dong, makanya kapan2 mau nyoba ngewe sama gue ga?”
“Hmmm gimana yaaaaa, yaa liat nanti aja deehhh”. Sambil berkaca di cermin kecil sambil merapikan rambut dan poninya.
“Yawdahhh nnti kpn2 kita coba yaa??” Ucap gue memastikan.
“Iya ahh, ywdah, gue mau balik ke anak2 dulu nih. Ntr gue dicurigain lagi ganti baju doang kok lama banget.” Dia pun membuka pintu dan keluar dari kamar mandi.
“Sipp, ati2 lo. Thankss meliaa atas handjob dan blowjob lo… Hehhhe”“Haahh, bakalan enak nih kalo seandainya nanti gue ML sama dia” Pikir gue.

dan setelah berapa menit gue keluar dari toilet tersebut perasaan menyesal pun datang menghampiri! biasalah penyesalan selalu datangnya belakangan dan ga pernah duluan! menyesal kenapa ryo? he...menyesal kenapa ya ga gue paksa melia untuk langsung aja ngajakin ngentot!hahahaha...

Mbak Narsih Yang Galak

Namaku Kuntadi Priyambada. Aku biasa di pangil Kun. Kedua orang tuaku sudah meninggal, Ketika itu aku baru kelas 2 SMP, Aku terpaksa ikut Mas Pras. Dia adalah anak ayah dari isteri pertama. Jadi aku dan Mas Pras lahir dari ibu yang berbeda. Mas Pras ( 30 tahun ) orangnya baik dan sayang kepadaku, tapi istrinya……… wah judes, dan galak. Ketika Ibuku meninggal, yang mengakibatkan aku jadi sebatang kara di dunia, Mas Pras baru seminggu menikah. Kehadiranku di keluarga baru itu, tentu sangat mengganggu privasi mereka. Rumah kontrakan sempit hanya ada tiga kamar. Kamar tidur, kamar tamu dan dapur. Aku merasakan sikap yang kurang enak ini sejak aku hadir di situ.
“Kun, kamu tidur di kursi tamu dulu, ya…? Atau di karpet juga bisa. Kamu tau kan, memang tidak ada tempat?” Mas Pras menyapaku dengan lembut.”Sama Mbak-mu harus nurut. Bantu dia kalu banyak pekerjaan” Aku hanya mengangguk. Aku tidak begitu akrab dengan Mas Pras, karena memang jarang bertemu. Aku di Jogja, Mas Pras kerja di Semarang. Nengok ibu (tiri) paling setengah tahun sekali. Sambil mengirim uang buat biaya sekolah aku.

Kakak lalu berangkat kerja. Dia adalah sopir truk antar-propinsi. Saat itu aku putus sekolah. Di Jogja belum keluar, tapi di Semarang belum masuk ke sekolah baru. Sehari-hari di rumah sempit itu menemani kakak ipar yg baru seminggu ini kukenal. Rasanya aku tidak krasan tinggal di “neraka” ini. Tapi mau ke mana dan mau ikut siapa?
Pagi itu aku sudah selesai menjemur pakaian yang dicuci Mbak Narsih. Kulihat dia lagi sibuk di dapur.
“Mbak, saya disuruh bantu apa?” aku mencoba pedekate dengan Mbak Narsih.
“Cah lanang, bisanya apaaa. Sana ambil air, cuci gelas, piring dan penuhi bak mandi.” Sakit telinga dan hatiku mendengar perintahnya yang kasar. Tanpa ba-bi-bu semua kulaksanakan. Karena tak ada lagi yang mesti dikerjakan lagi, iseng-iseng aku nyetel radio kecil di meja tamu (Kakak gak punya tivi)
“E…malah dengerin radio……….sana belanja ke warung” aku diberi daftar belanjaan. Untungnya aku sudah biasa membantu Ibu ketika beliau masih ada. Aku hidup bersama Ibu sejak kecil, karena ayah sudah lama meninggal. Agak jauh warung itu. Aku tidak malu-malu dan canggung beli sayuran, malah Bu Salamun, yang jual sayur heran, “Mbok, nyuruh pembantunya, to cah bagus. Kok belanja sendiri.” Aku cuma senyum saja. “Ini, Mbak, belanjaannya. Ini susuknya.” Kuserahkan tas kresek dan uang kembalian, tapi Mbak Narsih tetep sibuk marut kelapa. Kutaruh saja tas kresek itu di kursi kayu dekat kompor minyak. Memang kesannya dia baru marah. Padahal aku tidak merasa melakukan kesalahan apa pun. Tanpa disuruh aku ikut mengupas bawang, memetik sayur dan menyiapkan bumbu yang tadi kubeli. “Mau bikin sayur lodeh,to Mbak?”
“Sok tau………..” jawabnya ketus. Dia mulai masak. Aku keluar saja. Ada rasa ngeri deket-deket orang marah. Di luar aku nggak berani dengerin radio lagi. Ingin rasanya aku menangis dan pergi dari rumah ini. Aku duduk di teras rumah melihat orang berlalu lalang di depan rumah. Tiba-tiba aku membaui masakan yang gosong. Tapi aku tidak berani masuk. Takut dibentak istri Mas Pras yang cantik tapi guualakke pol itu.
“Kuuuuuunnn…………..sini” Mbak Narsih berteriak memanggil. Aku bergegas masuk. Kulihat dapur berantakan. Panci sayur di lantai, sayur tumpah. Kursi tempat menaruh bumbu sudah terguling.Bumbu bertebaran di lantai. Dan…. kompor menyala besaar sekali. Untung aku tidak ikut panik dan bisa berpikir cepat.
“Mbaaaakk…kenapa tanganmu?” Kulihat tangannya merah melepuh, Tangan Mbak Narsih sepertinya ketumpahan kuah tapi perhatianku lebih tertuju pada kompor yang menyala besar sekali,. Cepat kuambil keset di ruang tamu, kubasahi dengan air cucian dan kututupkan ke kompor yang menyala itu. Sesaat kemudian kompor itu padam. Cepat kupetik papaya di depan rumah ( padahal itu milik Lik Yanto, tetangga) kubelah pakai pisau. Lalu getahnya kuusapkan ke tangan Mbak Narsih yang melepuh.
“Jangan…nanti sakit….ngawur….aduuuuh,,,” Mbak Narsih menangis dan aku nekad menutup lukanya iu dengan sayatan-sayatan papaya mentah. Luka itu akhirnya tertutup semua dengan sayatan buah papaya. Keliatannya usahaku berpengaruh. Mbak Narsih agak tenang sekarang.
“Sudah dingin, Mbak?” aku menatap dengan iba kakak iparku yang malang ini. Air matanya meleleh. Dia diam membisu sambil menggigit bibirnya menahan sakit. Pasti panas dan perih, aku tahu itu.
“Kun, kita gak bisa makan siang.” Akhirnya keluar suara Mbak Narsih, pelan tidak galak lagi.
“Wis Mbak, istirahat saja, masih sakit kan?” kutegakkan kursi yang terguling dan kutuntun Mbak Narsih duduk. Dapur segera kubersihkan. Kompor bisa menyala lagi. Sisa-sisa bumbu yg ada kupakai untuk masak sayur pepaya. Aku sudah terbiasa membantu Ibu, jadi ini hanya suatu kebiasaan. Mbak Narsih hanya melihat aku sibuk di dapur tanpa komentar. Dia terus-terusan mengaduh kesakitan. Tapi aku mendahulukan selesainya pekerjaan di dapur. Sayur sudah masak. Nasi sudah ada. Semua kuatur di meja tamu yang sekaligus menjadi meja makan.
“Mbak, mau makan? Tak ambilke, ya?” Mbak Narsih hanya memandangku dengan mata basah.
“Kun, kamu baik, ya? Terimasih, ya Dik, tapi kedua tanganku melepuh begini, dan ini perutku perih sekali. Kulihat perut Mbak Narsih, Astaga…. Ternyata daster sebelah kiri sudah terbakar dan perut Mbak Narsih bengkak kemerah-merahan. Aku cari sisa-sisa irisan papaya tadi. Aku parut lembut dan kuparamkan di perutnya. Waktu itu aku tidak berpikir macem-macem, karena perhatianku pada penderitaannya. Dia agak tenang sekarang.
“Ambilkan daster Mbak yang utuh di lemari, Kun. Yang kupakai ini dibuang saja, sudah separo terbakar.”
Aku ambilkan daster pink di lemari lalu….aku berhenti dan termangu di depan Mbak Narsih.
“Ayo, buka daster yang terbakar ini. Tolong diganti dengan yang kamu ambilkan tadi.” Mbak Narsih melihat keraguanku tadi. ‘Pelan, pelan…. Ada yang masih lengket di kulit…ssss… adduuuh”
Akhirnya daster itu bisa kulepas. Baru kali ini aku melihat dengan jelas dan dari dekat, wanita setengah telanjang. Mbak Narsih berkulit putih bersih. Perutnya rata dan…. yang terbungkus di bra hitam itu bulat putih dan besaar. Aku terpesona sesaat.
“Ayoooo….. dingiiin, Kun. Cepat ambil daster pink itu” aku tersadar dari pesona keindahan di depanku segera memakaikan daster itu.
Siang itu aku menyuapi Mbak Narsih. “Enak, Kun, masakanmu. Kamu kok bisa masak, to?”
“Halah, aku Cuma liat Ibu masak dan sering membantu Ibu.” Tapi dalam hati aku bangga memperoleh perhatian seperti itu.
Lik Yanto dan Mbak Saodah, isterinya, datang menengok dan memberi salep dingin. Tiap hari, pagi dan sore aku mengolesi luka-lukanya. Kedua tangan, jari, dan perutnya. Tiga hari aku merawat Mbak Narsih ……. suasana sudah berubah total. Keadaan dia, dua tangannya nyaris nggak bbisa pegang apapun. Telapak tangan melepuh, membuat dia menyadari bahwa saat itu, aku diperlukan, selama Mas Pras belum pulang. Karena tiap pagi dan sore, mengepel tubuhnya, aku bisa melihat dari dekat seperti apa tubuh wanita dewasa itu. Saat aku mengelap tubuhnya, aku jadi tau, bentuk payudaranya yang bulat dan kenceng, putingnya yang coklat dipucuk gunung putihnya, Saat kulepas celdamnya, bisa kulihat bibir bawahnya yang indah berambut tipis. Pangkal pahanya lebih putih daripada sekitarnya. Memang Mbak Narsih wanita cantik sempurna. Kakakku tidak salah memilih pasangan hidupnya. Mas Pras ganteng, Mbak Narsih cantik. Hidungnya mungil tapi tidak pesek. Runcing indah di atas bibirnya yang mungil. Seperti Yuni Shara, tapi tubuh kakakku jauh lebih besar dan lebih tinggi. Tanpa kusadari, aku kok merasa asyik merawat kakakku ini. Pengen nya hari segera sore atau kalau malam ingin segera pagi. Ada kerinduan untuk melihat keindahan itu. Ah, berdosakah aku? Sering aku diam melamun diombang-ambingkan perasaan ingin menikmati tapi juga merasa bersalah kepada Mas Pras.
Setelah tiga hari hanya di lap dan dipel dengan handuk basah., pagi itu dia minta dimandikan dengan air hangat. Kusiapkan air hangat di baskom. Mbak Narsih duduk di kursi kayu, kamar mandi kubiarkan terbuka, agar ruangan lebih luas dan aku bisa ikut masuk mengguyur tibuhnya dan memandikannya. Aku merasakan kehalusan kulitnya saat aku menyabuni tubuhnya. Pahanya yang mulus dan bersih, pundak dan lehernya yang jenjang dan putih. Tadinya aku ragu-ragu untuk menyabuni susunya. Tapi Mbak Narsih dengan “marah” memaksaku menyabuni bukit kembarnya itu.
“Kun, terus saja gosok dan putar-putar di situ, biar bersih.” perasaan sudah bersih banget, kenapa disuruh menyabuni terus. Melihat kemontokannya terasa celanaku jadi sempit.
“Nah. Diputar putar gitu, Kun. Terus dari bawah diangkat sambil digosok.” Mbak Narsih terus member pengarahan. Kusangga payudaranya naik, lalu sedikit kuremas dan kupijit. Mbak Narti tidak protes, Cuma memandang ke payudaranya yang semakin menggembung montok itu. Apalagi kedua tangannya diangkat naik karena takut telapak tangannya yang luka terkena air, sehingga keteknya yang bermbut tipis itu terbuka lebar. Payudaranya terangkat naik.
“Sekarang, ambil air lagi, diguyur pelan-pelan. Sambil dihilangkan sabunnya.” Kuguyur merata, dan sisa-sisa busa larut ke bawah menampakkan kecerahan kulitnya yang semakin terang. Aku yakin tanpa lampu pun kamar mandi itu akan terang benderang karena kecerahan kulitnya.
“Dikosoki, Kun biar dakinya ilang.” Mbak Narsih mengulang lagi. Mulutku terkatub rapat sambil menggigit bibir, menahan perasaan aneh di hati, kugosok-gosok sisa sisa sabun yang terasa licin itu.
Memang enak rasanya menyentuh daging empuk ini. Aku malah setengah meremas pada ujung-ujungnya. Aku heran kenapa pucuknya keras. kenapa setiap aku remas ujung susunya, Mbak Narsih memejamkan matanya. “Masih sakit, Mbak?” Dia Cuma menggeleng tapi tetap mata terpejam.
“Kun, sudah tiga hari ini Mbak nahan untuk tidak ke WC, tapi perutku sudah sakit banget. Aku mau ke WC, Nanti tolong kamu semprot ya anuku, pakai toler air. Tanganku masih melepuh.” Mbak Narsih jongkok di WC, pintu kututup. Wah, baunya sampai juga di luar. Aduuuh, tugas berat nih, keluhku dalam hati membayangkan kotoran yang baunya saja sudah begitu menyengat. Kupijit hidungku.

“Kun, buka pintu WC dan semprot aku ya” kudengar suaranya dari dalam. Sudah kusipkan air yg kuberi sedikit obat pel yang wangi. Kubuka kran dan kutembakkan “water kanon” itu untuk membersihkan kotoran yang menempel di sana. Lalu Mbak Narsih membalikkan badan, membelakangiku. Pantatnya yang besar dan putih itu terpampang di hadapanku,”Semprot, Kun….!” Aku arahkan dari bawah air itu menyemprot lubang anusnya.
“Sudah bersih belum Kun?” Mbak Narsih nungging, terlihat dua lubang dobel. Berwarna pink semuanya. Ooo, seperti ini bentuk tempik perempuan dewasa dari dekat? Celanaku semakin mengggembung.
“Sudah belum? Kok lama sekali lihatnya?” dia protes
“SSssuudah…Mbak, jelas sekali…eeehh bersih sekali” aku jadi salah tingkah dan keseleo lidah.
“Sekarang ambil sabun. Tolong sabunilah biar hilang baunya. Tanganmu gak akan kena kotoranku lagi”
Haaaa…. Menyabuni “ituuu?” Aku kok jadi bersemangat, tapi kusembunyikan kegiranganku itu dengan bersikap senormal dan setenang mungkin. Kugosok anusnya dengan sabun, lalu kemaluannya secukupnya, kemudian kubilas lagi dengan semprotan air wangi tadi..
Pengin-nya aku mau lama-lama, tapi aku malu. Waktu meraba belahan kemaluan Mbak Narsih tadi, punyaku berkedut-kedut hebat seperti mau kencing.
“Kun, kok cepet-cepet, ya nggak bersih dong.” Sergah Mbak Narsih dengan raut marah.”Ayo lagi”
Aku ambil sabun lagi. Lubang duburnya kuusap-usap pelan, dari belakang kulihat bokong putih itu terangkat-angkat saat aku mengusap tadi. Seluruh permukaan bokongnya kusabuni dengan penuh perasaan. O, bersihnyaaaa..ooo putihnya…. Lalu kutelusupkan jariku maju ke “garis” di depan sana. Ternyata jariku “keceplos” ke dalam alur yang basah dan hangat. Di dalam terasa ada keduta-kedut yg menjepit jariku. Seperti aliran listrik, menjalar ke celanaku terasa juga kedutan kedutan liar di yang semakin terasa.
“Terus saja, Kun, teruussss….. nah.. pinter kamu, Kun…” Mbak Narsih menggumam seperti ngomong sendiri. Aku semakin tak bisa menahan kedutan di celanaku. Tak terasa dan tak kusadari, jariku bergerak menusuk semakin dalam ke “sana” seiring rasa yg kurasakan. Ujung jariku terasa menggapai-gapai sesuatu yang menonjol di dalam “sana” dan Mbak Narsih mendesis ; “Aaaaahhhh.. ssssshhh…” mendengar rintihan Mbak Narsih, aku semakin “menderita” karena ada semacam gelombang getaran yang mau menjebol benteng. Jariku bergerak maju-mundur semakin cepat, dan gelombang itu semakin mendekat.”Aaaahhhh…Mbak..”
Bersamaan dengan itu Mbak Narsih juga merintih,”Ahh ssshhh,,,, aku keluaarrrr…oooohhhh”
Aku merasa ada yang keluar di celanaku. Aku ngompol! Padahal aku tidak tidur? Tapi kok enaaak sekali? Tiba-tiba aku merasa malu, takut kalau Mbak Narsih menoleh dan melihat celanaku basah. Mbak Narsih keliatan lemes tapi wajahnya mengekspresikan kepuasan. Setelah kulap dengan handuk seluruh tubuhnya, aku kenakan daster yang bersih. Rambutnya aki sisir rapi. Mbak Narsih diam saja dengan sikap manis. Pagi ini terlihat dia sangat cantik. Sambil menyisir rambutnya, kupandangi sepuasnya makhluk cantik di hdapanku sepuas-puasnya.
Seminggu kemudian Mas Pras pulang. Perban sudah dilepas, tapi tangan jadi belang.
“Kenapa, Sih, tanganmu?” Mas Pras terlihat kuwatir.
“Kompornya meledak. Untung ada pahlawan kecilmu.” Mas Pras mengelus kepalaku. dia tersenyum. Aku jadi bangga campur nalu. Aku khawatir Mbak Narsih cerita kalau aku menyeboki dia. Aku berdebar-debar terus. Untung Mbak Narsih malah cerita kalau aku ternyata pinter masak.
“Dik Narsih, Kuntadi ini juara masak dalam lomba masak di sekolahnya. Dia juga bintang lapangan basket.” Pujian Mas Pras membikin aku semakin malu saja. Meskipun itu memang benar.
Malam itu aku sudah bebas tugas menjaga Mbak Narsih. Kecuali tangannya sudah pulih, Mas Pras sudah datang. Jadi biarlah semuanya dilayani oleh suaminya. Aku menjatuhkan diri di sofa kamar tamu disergap rasa lelah luar biasa dan langsung tertidur lelap. Padahal itu baru jam enam sore. Tengah malam, aku terjaga. Sayup- sayup aku mendengar suara orang menangis, tetapi diberangi suara mendengus-dengus….Aku diam mendengarkan. Itu datangnya dari kamar Mas Pras. Ahhh…rupanya Mas Pras sedang “anu” dengan Mbak Narsih. Aku harus pura-pura tidur lelap. Aku merasa tidak sopan kalau nguping kegiatan mereka. Tetapi mataku tak mau dipejamkan lagi. Aku memang sudah puas tidur sejak petang tadi. sekarang mendengar suara Mbak Narsih nerintih dan menangis…. jadi ingat kejadian di kamar mandi kemarin. Terbayang lagi tubuh Mbak Narsih yang seksi dan putih mulus. wajah cantiknya ketika menangis sambil berkata,” kamu …baiiik… Kun”. Ada perasaan aneh menguasai diriku. Tak ada lagi wanita galak, yang ada wanita cantik yang pernah aku raba seluruh tubuhnya. Beraneka pikiran berkecamuk di kepala mengantarkanku ke alam mimpi indah, bertemu wanita cantik… wanita itu memperliatkan tubuhnya yang telanjang bulat. Kemaluannya didekatkan ke batangku Dia mendekatkan lubang itu ke arahku lalu memasukkannya ke sana. Suatu rasa yang nikmat menjalari sekluruh pori-pori kulitku dan…….ketika terbangun celanaku basah.
Tak terasa sudah dua bulan aku ikut Mas Pras. Beliau masih sering tugas luar kota. Kali ini beliau ada di Lampung dan Palembang selama dua bulan. Gaji hanya dititipkan kantor. Aku sering disuruh Mbak Narsih mengambil gajinya di kantor Mas Pras. Meskipun Mbak Narsih sudah baik, tapi sifat judesnya tak mau hilang. mungkin sudah pembawaan. Wah…. Kalau memerintah… harus dilaksanakan tanpa protes. Aku membuat kelalaian sedikit saja, bisa dia “menyanyi” sepanjang hari. Maka aku harus hati-hati kalau ngomong atau bertanya sesuatu. Aku harus membereskan semua pekerjaan di rumah, baru aku berani keluar untuk maen. Paling suka aku ke lapangan maen sepakbola dengan anak-anak tetangga pada sore hari. Kalo pagi aku suka “menghilang” di rumah Oom Yanto tetangga depan rumah untuk baca Koran atau majalah. Bulik Saodah cukup ramah. Dia mengerti kalo aku sedang “mengungsi” di situ, Aku sering curhat kepada Om Yanto dan isteriya tentang perlakuan Mbak Narsih.
“Kenapa ya, makin hari Mbak Narsih makin sering marah-marah tanpa tahu sebabnya?”
“Sabar dan cuek saja. Mungkin dia jengkel karena Mas Pras nggak pulang-pulang.” Om Yanto mencoba menganalisa. “Maklum kan manten anyar?”
“Dia tidak marah sama kamu Dik Kun,” Bulik Saodah menambahkan, “ tapi sama keadaan rumah yang membosankan. Dia butuh hiburan, penyegaran.” Aku sedikit memahami penjelasan mereka.
“Dik Kun saya nilai anak yang baik, lho. Jaman sekarang, hampir tidak ada anak laki-laki yang bisa trampil ngurus pekerjaan rumah tangga.” Bulik mencoba memberi support dan aku merasa terhibur.
Meskipun aku di rumah Om Yanto, tetapi aku selalu mengawasi keadaan rumah. Supaya kalau sewaktu-waktu dicari, aku sudah siap datang. Terlambat sedikit, bisa pecah kemarahannya.
Jam satu, saatnya makan siang. Aku harus pulang, menyiapkan meja makan. Memang aku merasakan, sepertinya aku ini bukan sebagai adiknya Mas Pras, tetapi lebih sebagai pembantu rumah tangganya Mbak Narsih. Tetapi sampai di rumah, aku melihat piring kotor dan gelas kosong di meja makan. Sayur juga sudah ada di meja makan. Berarti Mbak Narsih sudah makan. Tetapi kok nggak ada. Aku menengok ke kamar tidurnya, tidak ada. O, pasti di kamar mandi. Ya, sudah aku makan sendiri saja. Baru satu sendok aku makan, terdengar suara dari kamar mandi, “Hooeeeek……” Aku berhenti makan dan berdiri bimbang, harus apa aku? “Hoooeeeek….” O, mungkin ini tanda Mbak Narsih hamil. Aku mendekati pintu kamar mandi. “Sakit, Mbak?” “Hoooeeeek…” itu jawabannya. Aku mencoba mengetuk pintu kamar mandi yg terbuat dari seng itu, ternyata tidak dikancing, Kriiiit… terbuka dengan sendirinya. “Kun, aku mual banget.” Aku masuk dan menggandengnya keluar. Kududukkan di kursi ruang makan. Dia lalu merebagkan kepalanya di meja makan. Lemas. Badannya basah kuyup keringat dingin. “Sudah makan, Mbak?” sebetulnya aku nggak perlu Tanya, jelas baru saja dia makan dan habis banyak. Itu bisa dilihat dari sisa nasi di tempat nasi. “Sudah. …..Kun….bawa aku ke tempat tidur.” Lirih suaranya. Kupapah jalannya ke kamar. Satu tangannya di pundakku. Satu tanganku di pinggangnya.
Kurebahkan pelan-pelan tubuhnya dan kuberi bantal yang agak tinggi.
‘Kamu kok lama sekali di rumah Mas Yanto. Enak di sana ya?” pelan suaranya, tapi terasa menusuk perasaanku. Aku merasa bersalah.
”Aku …aku cuma baca-baca koran kok Mbak. Di rumah kan nggak ada bacaan.”
“Aku tau Kun” Mbak Narsih meraih tanganku disuruh duduk di tepi tempat tidur. “Mbak Narsih galak, kan?” Aku benar-benar jadi kikuk. Mau ngomong apa? Mau bilang tidak, nyatanya memang dia galak. Mau bilang nggak, pasti dia tau kalau aku bohong.
“Aku cuma takut saja, Mbak, kalau pas marah.”
“Maafin Mbak, ya Kun. Aku merasa sendirian kalau kamu pergi main atau kamu begitu krasan di rumah Mas Yanto.” Mbak Narsih menarik diriku hingga mukaku jatuh ke wajahnya. Diciumnya bibirku.
Lidahnya memaksa mulutku untuk terbuka. Di kulumnya bibirku. Aku gelagapan, tapi aku tidak berusaha menghindar. Rengkuhan tangannya begitu lembut penuh kehangatan. Kita berdua berciuman beberapa saat. Mula-mula aku pasif tapi lama-lama aku bisa mengikuti caranya. Lidanya pun kadang kusedot. Karena aku tidak bisa benafas aku mencoba melepaskan diri.
“Kun, …… jangan tinggalkan Mbak sendirian” matanya sayu dan mengiba. Sama sekali tidak terlihat galak dan judesnya. Sungguh penampilan yang sangat berbeda.
“Bisa pijit aku ya Kun, biar agak enteng mualku?” pintanya sambil memegang erat kedua telapak tanganku. Tatapan matanya menyihirku untuk mengangguk. “Pintunya ditutup dulu, nanti ada kucing masuk” Aku segera menutup pintu depan. Memang kucing putih punya tetangga sudah dua kali membongkar tudung saji di meja makan. Aku kembali ke kamar sambil membawa obat gosok.
“Gak usah pake minyak itu. Panas. Dipijit saja pelan-pelan. Lututnya dinaikkan dan roknya melorot ke pangkal paha. Kini nampaklah pahanya yang putih itu. Kupijit lututnya pelan-pelan. Aku tidak berani pegang pahanya. Tetapi dia malah menarik roknya lebih ke atas dan menyuruh pijit pahanya. Aku pijit dengan ragu-ragu. Telapak tanganku merasakan kulit Mbak Narsih begitu hangat. Pijatan-pijatan ku menjadi tidak terarah, karena saat kulirik ke atas, di pangkal paha itu….. tak ada secuil kain pun menutupi kemaluan Mbak Narsih. Keringat bermunculan di wajahku, mataku jadi terasa panas. Gigiku gemeletuk seperti kedinginan. Aku heran, kenapa aku ini. Apa aku ketularan sakitnya Mbak Narsih.
“Mijitnya pindah ta, Kun. Kok di situ terus. Paha yang satunya.” Sambil bilang begitu dia mengangkat pantatnya dan melolos roknya lepas. Kini tubuhnya bugil-sebugil-bugilnya. Tanganku dipegang dan dituntun ke garis di tengah tenpiknya. Aku menurut saja. Kuurut-utur bibir bawahnya yang segera basah dan terbuka sendiri. Kulihat cairan bening mengalir. Tubuhku semakin gemetar dan rasanya ingin sekali aku kencing. Kemaluanku mengeras sehingga seperti terjepit rasanya.
“Mbak, aku mau pipis dulu….” Aku memberanikan diri memohon.
“Sini, sini, aku lihat. Apa kamu benar-benar mau pipis.” Diturunkannya celanaku dan dikuakkan CD-ku ku samping, sehingga batangku yang sudah sekeras pentungan satpam itu teracung. Aku malu sekali. Tapi aku juga ingin benda itu dipegangnya. Dibelai-belainya “helm”ku dengan lebut. Segera gelombang kenikmatan mengalir seperti listrik ke pusat syarafku. Tangan kiriku masih di lubang tempiknya dan terus mengorek-ngorek di kedalamannya. Kurasakan dinding-dinding lembut yang hangat dan basah itu berkedut-kedut. “Mbak…Mbak…aduuuuh sudah Mbak…aku mau kencing Mbak…”
Dilepaskannya kemaluanku dan menurun pula irama gelombang itu, Anehnya, aku merasa kecewa, ingin dipegang tangan Mbak Narsih lagii. Aku melihat susu yang begitu montok dan putih menntang dan didorong oleh nafsu yang sudah mendidih, kuremas dan kuelus bukit kembarnya. Aku lupa diri. Malahan tanpa disuruh aku mengulum ujung susunya yang kemerah-merahan itu. Kiri, kanan, kiri lagi. Mbak Narsih menggelinjang dan mendesis. “Enak Kun….yang kanan Kun…”
“Terusss…Kun, kamu pinter yang kiriiii……terussss…. Dipijit-pijit terus…”
Entah kapan aku melepaskan pakaianku, tau-tau aku sudah tak berpakaian lagi. Aku berdiri di samping tempat tidur. Mbak Narsih menyorongkan lubangnya di depanku. Pahanya dinaikkan di pundakku. Terasa berat kakinya bagi tubuhku yang masih kerempeng.
“Kun, masukkan ke situ,,,,,cepat….aku sudah nggak tahan…”
Aku kagum melihat punyaku bisa sebesar dan sepanjang itu. Belum pernah kulihat sebelumnya. Sepertinya hari ini sudah berubah jadi naga raksasa. Kudorong pelan-pelan kerah lubang Mbak Narsih yang putih kemerahan itu. Pertama kali menyentuh bibir bawahnya, aku merasakan kenikmatan yang belum pernah aku rasakan. Geli tetapi enak. Makin ke dalam semakin hangat dan nikmat. Tak kuhiraukan rintihan Mbak Narsih, dia menangis seperti malam-malam dulu ketika bersama Mas Pras.
“Kuuuuunnnnn……. tusuk yang dalam…..dalam….dalam….ahhhhh”
Kini gemeretak gigiku sudah hilang, tetapi keringat membanjir luar biasa. Demikian pula Mbak Narsih, sprei jadi kusut dan basah kuyup. Diputar-putarnya pantatnya, sehingga aku makin kesetanan menusuk. Mbak Narsih terus duduk dan aku diberi dua bola bulat putih untuk kupetik dan kukulum. Tapi aku tidak kuat menahan beban tubuhnya. Kujatuhkanlah dia ke kasaur, lalu aku naik. Setan sudah menguasaiku. Mbak Narsih kini telentang, wanita cantik yang galak dan judes itu, kini menyerah di bawah sana. Kedua pahanya yang mulus dan putih kubentangkan, sehingga kemaluannya semakin terbuka. Sambil berlutut kusodokkan lagi senjataku ke sana. Terasa lebih dalam sekarang, karena ada ruang yang lebih bebas. Terdengar suara crop crop crop, seperti memompa dengan kelep yang basah. Wajahnya yang cantik itu menyeringai jadi jelek karena menahan rasa nikmat yang luarbiasa . Mulutnya menganga, matanya menatap liar. Hossss…..husssss…hhhhh…..napasku dan napas Mbak Narsih seperti seperti nafas orang berlari mendaki bukit. Makin cepat gerakan maju-mundurku semakin memuncak terasa gelombang datang bergulung-gulung berusaha menjebol benteng pertahanan. Mbak Narsih mengangkat pantatnya, tangannya menekan kuat-kuat pantatku sehingga batangku tertancap dalam-dalam di lubang kenikmatan itu saat pertahanku jebol. Mbak Narsih juga sama, cengkeraman tangannya di pantatku begitu kuat seakan kuku-kukunya tertancap di dagingku.
“Kuuuunnnn……………akuuuuuuuuu……keluar…..”
“Mbaaaaaakk……..oooohhhhh……..” berapa kali senjataku memuntahkan peluru aku tak sempat menghitungnya. aku terkulai di perut Mbak Narsih.
Keadaan jadi sunyi sekarang. Kupeluk kakak iparku. Dia pun memelukku bagaikan seorang ibu memeluk bayinya di pangkuannya. Badanku memang terlalu kecil dibandingkan tubuhnya yang bongsor
Mulai saat itu secara teratur aku diberi ( atau memberI ) ” jatah harian” di saat-saat Mas Pras tidak ada di rumah. Kalau sifat galaknya kambuh itu tanda Mbak Narsih “minta”. Benar kata Bulik Saodah, Mbak Narsih kesepian dan haus minum “es lilin”
Sekarang baru aku tau bahwa saat itulah aku kehilangan keperjakaanku. Setaun kemudian aku lulus SMP Saat itu Mbak Narsih melahirkan. Anaknya cewek berkulit hitam seperti kulitku. Padahal Mas Pras dan Mbak Narsih itu putih semua. Nggak taulah. Itu anak siapa? Tapi sampai cerita ini kutulis, Mas Pras tetap mengira kalau Shamira itu anaknya. Anak tunggalnya, Mbak Narsih tak pernah hamil lagi, menurut dokter (Mbak Narsih member tahuku ) Mas Pras punya gangguan kesehatan.

Dalam kisah sebelumnya aku telah menceritakan perubahan hidupku yang drastis setelah kematian ibuku. Aku terpaksa ikut Mas Pras saudara semata wayangku, sebagai pengganti kedua orangtua ku yang sudah tiada. Aku harus beradaptasi dengan isteri Mas Pras yang judes dan galak. Karena kepepet aku berusaha bertahan di “neraka” itu, tetapi karena kompor meledak itu pula Mbak Narsih, kakak iparku itu akhirnya mau menerima keberadaaanku. Kebetulan saja aku sebagai anak laki-laki punya keterampilan memasak yg diwariskan almarhumah ibuku. Dari kenyataan itulah Mbak Narsih tidak lagi menganggapku “cah lanang isane opo”
Saat-saat yang selalu teringat dan terukir mendalam dalam hatiku adalah kemesraan sesaat yang kurasakan ketika merawat Mbak Narsih. Pribadi yang keras dan menakutkan itu suatu saat berubah menjadi seorang yang sangat lembut yang membutuhkan belaian dan kasih sayang. Rasanya aku sedang bercumbu dengan singa betina yang setiap saat bisa menjadi ganas dan mematikan. Ada rasa takut bercampur nafsu birahi yang berkobar.

Sifat dan watak Mbak Narsih itu sudah mendarah daging, merupakan sifat bawaan, tak kan pernah berubah selama hidupnya. Jika dia baik dan lembut itu hanya sesaat, seakan-akan “lupa”. Dalam keadaan normal, watak aslinya itu keluar dan itu berarti aku kembali hidup dalam suasana terror mental. Sedikit saja kesalahan yang aku buat, sengaja atau tidak. Pasti dia marah. Cuci piring tidak bersih apalagi cuci gelas, mudah sekali ketahuan kalau tidak bersih. Gelas tidak boleh bau amis atau bau sabun. Kalau itu terjadi, semua gelas di rak diturunkan dan dicuci ulang semuanya, SENDIRI. Mulutnya ngomel menyindir dan memakai ungkapan-ungkapan yang menyakitkan perasaan.
“Eee, paringana kuwat. Memang aku nggak kuat bayar pembantu. Ya, nyuci sendiri. Keliatannya saja bersih. Mata bisa ditipu, hidung nggak bisa ditipu.” Mulutnya terus nyerocos disertai suara benturan-benturan gelas berkelotakan seakan mau pecah. Kasar sekali. Berisik sekali. Aku bertahan .
“Sudah bosan ikut kakaknya. Di sini harus kerja. Bisa saja makan tidur, kan punya pembantu. Pulang sekolah belajar, dengerin radio. Wah, enake, jadi murid teladan.”
Aku diam saja. Orasinya berkembang dari masalah gelas, ke masalah lain yang semuanya bikin panas hati. Mana berani aku menjawab? Bisa saja aku melawan, tapi itu berarti mengakhiri hidupku sendiri. Ke mana lagi aku harus hidup? Aku ingat almarhum ibuku yang lembut dan penuh kasih. Aku hanya bisa menangis dalam hati. Tak ada lagi kasih sayang ibu. Biasanya Mbak Narsih terus mendiamkan aku hari itu. Sebelum beliau ngajak omong, aku belum berani menyapa. Dalam situasi perang dingin seperti itu, aku dibuat “mati langkah” karena semua pekerjaan rumah, sudah dia kerjakan. Mbak Narsih pada dasarnya ibu rumah tangga yang rajin. Aku jadi semakin tidak enak saja. Belanja, masak, cuci piring sampai ngepel, semua sudah diberesi. Ah, masih ada, Ada pakaian kotor ( termasuk pakain dalamnya) segera ku bawa ke sumur umum. Lega rasanya, masih kebagian sedikit pekerjaan. Itu artinya aku menang. Sehabis mencuci, Mbak Narsih, menyapa aku.
“Enak ya? Semua pekerjaan sudah beres?” aku tidak menjawab. meskipun masih terdengar keras, namun aku sudah merasa tenang, paling tidak aku sudah disapa. Lalu esok hari suasana sudah normal lagi.
Dalam situasi dimarahi, aku merasa hidup sendiri. Bahkan saat ada Mas Pras pun, Mbak Narsih tetap “menyerang”. Seakan Mbak Narsih mencoba menunjukkan bahwa aku “tidak beres” kerjanya. Sayang, Mas Pras termasuk kelompok sukutri (suami takut istri). Di situlah hidupku benar-benar tertekan. Anehnya, di saat seperti itu pula, aku teringat atau suka mengingat saat-saat manis bersama Mbak Narsih. Saat dia minta dicumbu. Kubayangkan matanya yang redup dan rntihannya yang “memilukan” saat memperoleh kenikmatan dariku. Rasanya tidak mungkin beliau bisa bersikap sekasar itu saat ini. Sampai jauh malam mata tak bisa dipejamkan. Kuingat tadi siang saat aku “pura-pura”belajar ( karena semua pekerjaan sudah diberesi) aku sempat melirik sebentar saat Mbak Narsih mandi di luar kamar mandi, karena kamar mandi dikuras. Dia hanya pakai kain panjang untuk basahan. Meskipun aku takut sama galaknya, tapi tergoda juga untuk melirik menikmati kemulusan kulitnya. Putih mulus tertimpa temaramnya sinar matahari dari genteng kaca.
Dia menyabuni payudaranya yang bulat dan mulus itu dengan bebas, seakan-akan hanya dia saja yang ada di rumah ini. Membayangkan penampakan siang tadi dalam kesunyian pekatnya kamarku, tak terasa mulutku berbisik litih. “ Oh, Mbak Narsih…”
Aku tidak habis mengerti, kenapa di setiap saat beliau marah-marah, cara duduknya atau cara berpakaiannya di rumah seenaknya sendiri. Kalau tiduran di sofa, pahanya dinaikkan di meja tamu, dibiarkan tersingkap lebar. Aku berjalan menunduk saja saat menuju kamarku. Aku tahu Mbak Narsih mengamati langkah-langkahku sampai aku masuk kamar. Suasana diam yang mencengkam
Siang itu seperti biasanya sesudah mengangkat semua jemuran, beliau tidur siang. Kamarnya tidak ditutup, sehingga hampir seisi tempat tidur itu terlihat jelas dari luar kamar. Meskipun tertutup kelambu, aku tahu beliau tidak mengenakan pakaian apa pun. Cuaca Semarang bawah memang panas. Kelambu hanya untuk menghindari nyamuk saja. Dulu Mas Pras belum punya kipas angin. Terlalu mewah untuk kehidupan waktu itu. Dengan cara demikian mungkin beliau merasa nyaman. Sambil makan siang berkali-kali aku mencuri pandang kea rah kamar. Nasi dengan sup yang begitu banyak kuah terasa susah ditelan . Konsentrasi makanku terpecah, selera makan jadi hambar. Aku terlalu dini untuk mengalami pengalaman sex orang dewasa. Sehingga aku ketagihan untuk terus merasakan lagi. Aku berharap Mbak Narsih membuang guling yang dipeluknya, biar kulihat bukit kembarnya yang putih dan kemaluannya yang merah jambu dan basah itu. Seperti tahu yang aku inginkan, Mbak Narsih sekarang melepaskan gulingnya dan menjepitnya dengan kedua pahanya. Sehingga terlihat jelas apa saja yang tadi ingin kulihat. Susunya berdesakan terhimpit kedua tangannya. Pahanya terbuka karena terganjal guling dan mataku tak lepas memandang hutan lebat yang kurindukan itu. Lama sekali sendok terhenti di depan mulut tak segera kumasukkan. Aku menelan ludah. Hilang nafsu makan. Rasanya seperti ada yang menarikku untuk mendekat ke pintu kamar yang terbuka lebar itu. Agak menyamping aku melihat ke dalam, menghindari pandangan Mbak Narsih kalau tiba-tiba beliau terbangun. Aku berjingkat mendekati dinding sebelah kanan pintu. Pemandangan indah semakin jelas. Seandainya saja, kelambu itu tak ada, pasti kemulusan kulit nya akan semakin nyata. Kuberanikan diri melongokkan sedikit kepalaku melihat ke dalam. Mbak Narsih mendengkur halus. Enak sekali tidurnya. Ah, wajah yang sangat cantik. Alisnya yang hitam tebal jadi semakin indah jika matanya terbuka. Kakak iparku ini memang mirip sekali dengan Cici Faramida. Saat tertawa, barisan giginya yang rapi dibalik bibirnya yang tipis menambah kecantikannya. Aku tak tau sebabnya, kenapa tubuhku menggigil. Gigiku gemeletuk seperti kedinginan. Degup jantungku semakin kencang . Mukaku terasa panas. Ada dorongan yang sangat kuat tak tertahankan untuk terus mendekati tempat wanita cantik itu pulas tertidur. Napasku memburu. Batangku sudah menegang sejak masih di meja makan tadi, kini semakin mengeras saja. Ketakutanku akan sikap galaknya dikalahkan dengan berkobarnya nafsu remajaku. Pelan-pelan kutarik kelambu sialan yang menghalangi pandanganku. Srrrrrttt! Pelan dan halus kutarik. Lagi, srrrrtttt! Nah, sekarang lebih jelas. Oooohhh…. Putihnya……tubuhnya yang mulus itu indah sekali. Tak terasa mulutku berbisik lirih, “Ohhh Mbak Narsih…….”
Aku kaget sendiri mendengar suaraku itu. Lebih terkejut lagi saat kudengar suara Mbak Narsih, seperti orang mengigau, “Kuuuun, sini!” Aliran darahku seperti berhenti. Aku jadi takut sekali. Tapi aku juga penasaran, jangan-jangan aku salah dengar. Mau keluar dari kamar sudah terlambat. Aku hanya berhenti terpaku dengan kaki menggigil. Takut sekali. Benarkah dia memanggil aku tadi?
‘Sini……….jangan berdiri saja.” Matanya masih terpejam, tapi jelas kulihat mulutnya bergerak.
“Kamu sudah pengin……….Kun…….” Mbak Narsih memiringkan tubuhnya membelakangiku. Dari nadanya sepertinya dia tidak marah. Berkurang sedikit ketakutanku. Tapi aku tetap diam di samping tempat tidurnya.
“Kuuuunnnn……..” sekarang suaranya lebih keras, tapi posisinya masih memunggungiku. Kuperhatikan bongkahan pantatnya yang bulat. Putih mulus. Agak ke bawah kulihat warna hitam bersembunyi di balik nya. “Ayoooo Kuuun……tunggu apa lagi.” Kini aku yakin dia memanggilku.
“Ya, Mbak…….…..” senang sekali aku disapa kembali. Aku merasa bahagia dan damai. Kuberanikan diri mendekat dan duduk di pinggiran kasurnya. Mbak Narsih masih diam. Tanganku sudah gemetaran ingin menyentuh pantatnya. Kusentuh pelan dan kurasakan hangaaaat sekali kulitnya. Kuelus pahanya sambil kutunggu reaksinya. Masih tetap diam. Tapi tidak ada penolakan. Kuelus pahanya yang putih mulus itu dan kurasakan bulu-bulu lembut halusnya. Kehangatan kulitnya sangat terasa mempengaruhi diriku. Aku jadi gerah sekali dan ingin membuka baju. Kulempar keluar saja bajuku dan jariku kembali beraksi. Kini kuberanikan diri menuju sudut htam di arah bawah pantatnya. Aaahhh…… kenapa basah sekali? Ujung jariku masuk pelan-pelan ke lubang yang hangat dan licin itu. Makin ke dalam semakin panas. Kudekatkan mukaku untuk melihat lebih jelas bagian yang paling menarik itu. Inilah yang selalu terbayang dalam kesendirianku. Kini terlihat nyata dalam jarak sangat dekat. Bau yang khas dari bagian ini merangsang nafsuku semakin berkobar. Timbul keberanian untuk menarik tubuh molek yang sedari tadi diam dan pasif itu. Kutarik pahanya, ke arahku sehingga tubuh molek itu kini terlentang, Lubang kenikmatan itu merah merekah dengan daging merah jambu yang mungil menonjol di atasnya. Kusentuh lembut daging aneh itu dengan lembut. Dia menggeliat. Kusentuh kagi, menggeliat lagi. Kulihat mukanya mendongak disertai desisan halus “ Sssshhhhh….”
Ketika itu aku belum punya pikiran untuk menjilat benda itu. Belum pernah kulihat film BF atau gambar porno. Aku terlalu lugu saat itu. Jadi melihat tempik wanita dewasa, merupakan sesuatu yang baru, sangat mengasyikkan. Aku “bermain-main” dengan klitoris nya yang semakin membesar itu.
Begitu dekatnya mukaku ke lubang itu sehingga napasku yang panas terasa oleh Mbak Narsih. Tiba-tiba tangan Mbak Narsih menekan kepalaku. Hasilnya mulutku dan bibirku bersentuhan dengan “bibir”nya. “Kuuuunnnn………..pakai lidahmu saja……oohhhh”
Kujilat tempik Mbak Narsih. Sama sekali aku lupa bahwa lubang itu biasanya untuk kencing. Rasanya asin, tapi membikin ketagihan. Semakin dalam lidahku menjilat, geliat tubuhnya semakin menghebat. Aku jadi bersemangat.
“Kuunnn…. Itilku……itilku…..jilat terus…..” kujilat daging merah itu dengan rakus. Seprei jadi kusut carut marut karena diacak-acak oleh gliatan tubuh nya yang semakin liar. sampai tiba-tiba badan Mbak Narsih menegang, pantatnya diangkat dan….. cairan hangat menyemprot dari lubang itu. Seperti susu cair yang hangat. Hidung dan mulutku basah. “Aaaaahhhh……..Kuuunn………” suara itu begitu merdu terdengar di telingaku.
Kini Mbak Narsih duduk matanya sayu memandangku. Aku yang biasanya takut bertatapan mata, kini kutatap juga matanya. Kukagumi matanya yang lebar dengan bulu mata yang melengkung indah. Tak ada kesan galak sama sekali. Mata indah itu, mata Mbak Narsih yang sbekumnya menakutkan. Aku merasa diajak berdamai. Aku bahagia sekali.
“Kenapa kamu panggil namaku, Kun?” dia bertanya lembut. “Kamu kangen….ya Kun?”
“Maafkan aku ya Mbak….aku sering buat Mbak marah…” wajahku ditariknya mendekat. Aku dicium.
Aku tidak tahu harus berbuat apa. Bibir Mbak Narsih mengulum bibirku. Lidahnya terjulur menerobos bibirku. Kusedot dan kurasakan basahnya mulutnya. Aku berciuman dengan cara yang belum kukenal. Anehnya aku merasa bahagiaaaa… sekali. Tanpa kupikirkan sebelumnya, tanganku sudah meremas bukit-bukit empuk yang menempel hangat di dadaku. Kucari ujungnya yang mulai mengeras itu. Kuremas lembut . Setelah bibir kami lepas, bibirku mendapat sasaran baru. Ku sedot putting itu seperti bayi netek. Tangan Mbak Narsih membelai rambutku. Matanya tak lepas dari susunya yang sedang kuhisap itu. Bila susu kiri aku hisap, maka yang kanan kuremas-remas. “Terusss….oohhh…”
Sambil menikmati sedotanku, tangan mbak Narsih melepaskan celanaku dan memegang batangku.
“Keras sekali…Kun….” Dia berbisik mesra.” Iiiiih.. panjang banget.”
Kulihat ke bawah, jari-jarinya yang putih itu mengelus-elus batangku yang hitam. Ujung “helm” itu disentuh-sentuh lembut membuat aku belingsatan.
“Aduuuuu ….Mbak…..aku nggak kuat” gelombang dahsyat bergulung-gulung datang. Seperti tak mendengar rintihanku, gerakan tangannya malah semakin cepat. Saat pertahananku hampiir jebol, dia berhenti. Ada rasa kecewa tertahan. Kenapa berhenti. Kulihat Mbak Narsih mengamati batangku dengan gemas. “Ditempelkannya ke wajahnya yang ayu dan putih. “O, seperti ini, hmmmmahhh.
Kamu memang nakal, Huuuhh…..” dipukul-pukulkannya kemaluanku ke hidungnya, ke pipinya. “Ooohhh besar sekali.!” Aku sendiri heran, kenapa tongkolku bisa sebesar dan sepanjang itu. Wajahnya memerah dikuasai nafsu birahi yang tinggi. Tak kukira sebelumnya, beliau mau menjilati “kepala” helm yg kini memerah itu. Urat-urat di sepanjang batangku menjadi bertonjolan dan berkedut-jedut. Mata beliau semakin liar dan…… hap….dimasukkannya seluruh batang itu ke mulut beliau yang terlalu indah buat tongkolku yg hitam itu. Dikulum keluar masuk sampai batangku basah. Air liur bening membasahi “helm” ku. Beliau mendorong lembut tubuhku hingga aku terjerembab ke kasur.Mataku tak lepas memandang kagum dan heran dari aktifitas mulut wanita cantik ini. Tak terlukiskan nikmatnya…… Puas “makan” lontong hitamku, kini beliau jongkok dan memegang batangku diarahkan ke lubang kenikmatan yang sudah amat basah itu. Cairan putih memenuhi bibir tempiknya yang putih itu. Begitu gagah batangan ku memasuki lubang sugawi. Tangan beliau mengarahkan dan menggosok-gosokkan “helm” itu ke “kacang” ajaib disertai desisan kenikmatan…Ssssshhhh……mata beliau konsentrasi penuh ke sana dan……. blessss ……….aaahhhh…….hampir bersamaan aku dan beliau mengerang, meraskan “penderitaan” yang sama. Badanku tampak kecil dibandingkan pantatnya yang super lebar. Bibir tempiknya merekah lebar diterjang benda panjang hitamku. Mbak Narsih aktif menarik maju mundur semakin lama semakin cepat. Kadang-kadang beliau mendongak menahan rasa nikmat yang melanda syaraf-syarafnya. Kadang diputar-putar pantatnya, menimbulkan denyutan-denyutan yang luar biasa nikmat. Oh…Mbak……terus Mbak……enak sekalii….ooohhh……
“Enak….Kun…….adddduuuh……Kun……punyamu kok bisa begini…..ssshhhh……sssss……” terus menerus kata-katanya tak berhenti…..seperti bicara tanpa kesadaran…..
Gerakannya semakin liar dan semakin cepat. “Aahhhh…..oohhh…..uuuuu……” beliau menangis sambil menambah kecepatan gerakannya. tongkolku jadi sakit karena terlau tegang dan panas. Tiba-tiba semua gerakannya berhenti dan……serrrrr…. Cairan hangat membanjiri kemaluan dan perutku……Beliau melepas batangku dan terguling ke sampingku. “Aku….le….mes…..ba….nget….Kun….”
Meskipun kecewa karena aku belum puas, melihat wajahnya yg kuyu dan lemas, aku iba.
“Kesel…Mbak……” kuelus wajahnya dengan penuh perasaan. Saat itu aku merasa sayaaaaaang sekali pada wanita yang galak itu. Kucium pipinya, dan…..kuberanikan mencium bibirnya. Kami berciuman mesra sekali. Direngkuhnya badanku, kini aku rebah di atas badannya yang licin bermandi peluh. Cukup lama kami berciuman sampai tangan beliau mencari-cari batangku dan diarahkan ke lubang itu lagi. “Masukkan…..saja, Kun…..aku mau lagi…..”
Dalam posisi bersimpuh kumasuki lubang kenikmatan itu. Kulitnya yang basah oleh peluhm menjadi berkilat dan keliatan indah sekali. Kamar yang agak gelap itu menjadi terang oleh pantulan cerahnya kulit putihnya. Aku terangsang sekali. Pelan-pelan aku gerakkan maju dan mundur. Lubang itu agak kering sekarang. Merasa tidak nyaman. Aku cabut keluar dari lubangnya. Aku bermaksud berdiri di samping kasur. “Kuuuun…..kok dilepas…….ayo…….” beliau merintih memohon. Biasanya dia main perintah dan harus dipatuhi, sekarang singa betina itu merintih memohon. Aku tidak menjawab, langsung turun sambil menyeret kedua kakinya ke tepi pembaringan. Kubentangkan lebar kedua pahanya. Pangkal pahanya tampak merekah menantang. Aku sengaja tidak segera memasukkan tongkolku, aku ingin dengar rintihannya, jriku mempermainkan daging itilnya saja.
“Kuuuun….. ayo…..jangan main-main itu….. cepet masuk…masuk…ooohhh….” Puas aku mendengar rintihan beliau. Kuarahkan batangku ke lubang iu dan……blessss….Ternyata lubang itu kini sudah basah lagi. Beliau mengangkat tinggi-tinggi kakinya sehingga tanganku terbebas tidak menyangga lagi. Kini aku raih kedua bukit kembarnya yang terpantul-pantul karena goyongan tubuhnya yang kusodok-sodok.
“Enaaak….Kun…..Enak…ya…..Kun……?” mulutnya terus nyerocos tapi matanya terpejam.
Aku bergerk maju mundur dengan irama pelan. Kunikmati setiap gerakan. Kurasakan makin pelan aku menggerakkan, tongkolku terasa digigit atau dijepit oleh “bibir” beliau.
“Kun cepet… sing jeruuuuu……oooh…..oohhh……sing jeru…..”
“Iya…Mbaaaaakk……..ini….Mbak…. aaaahhh…..”
Udara kamar terasa semakin panas. Keringat sudah membanjir…..nafsu sudah sampai kepala.
Kupercepat gerakan, makin lama makin cepat dan tusukan semakin dalam.
Plak plak plak….kreet….kreeet…..suara daging beradu dan kerenyit tempat tidur mengiringi tarian birahi aku dan beliau. Jepitannya semakin kenceng dan denyut-denyut diujung kemaluanku semakin terasa….”Mbaaaaakkkk….iki….piyeeeee…… addduuuh…..” Aku sudah sampai di ujung perjuangan.
“Tungguuuu……akuuu….ke….lu….ar……Kunnnnn.” Pantatnya berputar liar dan tangannya mendorong pantatku sampai mepet . Crooottttzz……Seeerrrr. Kami mencapai klimax bersama.
Kupeluk Mbak Narsih. Kurebahkan kepalaku di atas susunya yang empuk.
“mBaaak….. aku sayaaaang sama Mbak Narsih.”
Mbak Narsih tidak menjawab, tetapi ganti memeluk erat tubuhku. Aku berharap semoga beliau tetap seperti ini. Tidak marah-marah lagi. Tetapi aku menyadari kenyataan seperti orang Semarang bilang….watuk iso mari, nek watak….kapan marine? Watak adalah kodrat manusia yang tidak mampu manusia mengubahnya.

Dalam serial sebelumnya, para pembaca pecinta CCS Bluefame, sudah tau bagaimana watak Mbak Narsih. Mudah marah, perfeksionis dalam urusan kebersihan rumah tangga, dan sekarang baru aku tau, kalo beliau itu juga eksibisionist, suka menggoda dengan memamerkan tubuhnya yang seksi. Meskipun sifatnya itu hanya di dalam rumah saja.
Sudah sebelas hari Mas Pras belum pulang. Selama itu pula aku bersikap sangat hati-hati, tidak ingin kena marah lagi. Aku ingin memelihara suasana damai dengan Mbak Narsih. Setelah kejadian “santap siang” itu sikap beliau baik. Tapi aku tetap hormat dan takut. Beliau juga tak pernah bicara soal itu. Seolah-olah tak pernah terjadi. Aku tidak berani lagi mengintip-ngintip. Aku tau diri dan berusaha menghormati Mas Pras. Aku juga sudah kepengin ketemu Mas Pras. Beliau janji mau mencarikan aku sekolah, sudah 3 bulan aku tidak bersekolah.
“Masmu kok belum pulang ya Kun?” matanya memandang ke pintu. Keliatan kalo beliau sudah kangen sekali kepada suaminya. Lampu Petromax semakin redup, butuh dipompa lagi. Aku menurunkan lampu itu dan memompanya. “Sudah sebelas hari, Mbak.” Jawabku sambil memompa lampu menjadi semakin terang lagi.

“Kamu hitung, to Kun?” Mbak Narsih heran. Ternyata aku peduli dg Mas Pras. Sekarang dia melihat aku yang masih memompa lampu.
“Aku kasih tanda tuh di kalender.” Alasan sebenarnya aku memberi tanda karena ingin mendapat kepastian, kapan aku bisa masuk sekolah lagi. Aku menunjuk kalender di dinding kamar tamu. Mbak Narsih berdiri mendekat dan memperhatikan dengan cermat kalender itu.
“Kok kamu tulis DM. DM, DM, apa sih artinya” Mbak Narsih menatapku heran.
Aku terkejut, addduuh! Itu artinya kan “damai”. Tapi aku harus ngomong apa??? Kemungkinan ini tak kuduga sebelumnya. Sambil mencantelkan lampu aku berpikir keras mau jawab apa. Sialnya karena silau dan gugup, tak juga mau nyantel-nyanthel kolong lampu ini ke tempatya.
“Ayooo, apa Kun?” Mbak Narsih tak sabar menunggu jawabanku.
Daripada aku bohong kena marah lagi, yaaa lebih baik….
“Artinya damai, Mbak.” Aku menjawab lirih sambil melepaskan pelan-pelan lampu yang sudah nyantel itu. Karena aku melihat ke atas Mbak Narsih tidak tahu pucatnya wajahku.
“Daa….mai?” Mbak Narsih mengerenyitkan dahinya. “ Damai gimana maksudmu, Kun?”
“Mmm….” Sambil memijit-mijit tengkukku yang tidak pegal aku memandang Mbak Narsih malu-malu.
“Ayo, awas kalau bohong!” beliau berdiri berkacak pinggang. Wah, gawat!
“Maaakk….sud saaaayaa, ya damai dengan Mbak Narsih.” Akhirnya aku memilih jalan lurus.
“Lho, aku kan selalu damai sama kamu?” sekarang beliau duduk di dekatku dan memandang lurus mataku. “Apa aku kamu anggap musuhmu?”
“Bukan begitu, Mbak.” Aku beringsut mundur, secara reflek aku takut. “Justru aku senang selama sebelas hari ini Mbak Narsih tidak marah sama aku. Aku merasa bahagia, kok Mbak.”
“Kenapa mundur-mundur, takut ya? Kalau tidak salah kenapa takut?” nada uaranya tidak galak lagi.
“Siapa takut, Mbak. Ini, aku berani maju.” Aku mendekat lagi bahkan lebih mepet.
Mbak Narsih tersenyum geli melihat sikapku. “Uuuu….cah nakal. “ dipijitnya hidungku dengan gemes.”Aduuuu Mbak, sakit” malam itu suasana terasa mesra dan menyenangkan. Sampai jam sebelas malam kami berdua ngobrol akrab. Sepertinya Mbak Narsih menunggu Mas Pras, tapi beliau tidak bilang apa-apa. Mbak Narsih sudah menguap dan masuk ke kamar tidurnya. Petromax saya matikan kuganti lampu tempel. Aku pun masuk kamar, segera tidur nyenyak dengan mimpi indah. Aku tidak tahu bahwa jam dua belas malam Mas Pras datang. Dalam mimpiku aku bertemu cewek cantik. Cewek yg belum kukenal itu tanpa malu-malu mendekati aku dan menciumi aku. Bajuku dibuka lalu celana ku diturunkan. Aku sekarang tinggal memakai celana dalam. Dalam alunan musik dangdut cewek itu meluk-liuk kan tubuhnya mengikuti irama sambil melepas pakaiannya satu persatu. Kemaluanku menjadi tegang. Apalagi saat dia mendekat dan mengelus-elus penisku dengan lembut, rasanya nikmat sekali Tiba-tiba aku merasa sesuatu yang berat menimpa badanku dan kemaluanku terasa basah dan hangat. Kurasakan nafas hangat dan berat menyapu wajahku. Aku terbangun!
Mataku menatap kabur pada bayangan di atas wajahku di kamar ku yang gelap itu. Beberapa saat pandanganku menjadi jelas bahwa itu wajah Mbak Narsih. Aku bermaksud membuka mulut dan bertanya tetapi mulutku dibekap. “Ssssst……..!” beliau menyuruh aku diam. Badanku yang kecil itu merasakan beban yang lumayan berat dari tubuh wanita dewasa itu. Beliau jongkok dan bergerak naik turun. Penisku merasakan kehangatan di dalam lubang Mbak Narsih. Ternyata apa yang terasa dalam mimpiku itu adalah kenyataan. Kini dengan sadar kurasakan kenikmatan itu. Nafas nya yang memburu menandakan beliau sedang dilanda nafsu birahi yang hebat.
“Kuuuun……puasi akuuuu……. “ beliau merebahkan diri di atas tubuhku dan berbisik di telingaku. Aku berusaha menahan berat tubuhnya. Badannya panas sekali. Bau keringatnya yang khas menyeruak membangkitkan nafsuku. Kudorong tubuhnya ke samping, kini aku berhadap-hadapan dengan beliau dalam posisi miring. Susunya yang bulat putih itu kuremas-remas, terasa hangat dan kenyal. Telapak tanganku terlalu kecil untuk memegang payudaranya yang padat bulat itu. sambil kusodok lubangnya dengan penuh semangat. Setelah beberapa saat posisi seperti itu kurang nyaman rasanya.
“Kamu……ssshhh. …kamu… di….ooouuh…di … atasssss….Kun…..” segera kuturuti perrmintaan beliau. Aku merasa lebih leluasa melancarkan gerakanku. Kini aku mendengar music dangdut yang kudengar dalam mimpi tadi. Mbak Narsih menyalakan radio kecilku, yang gelombangnya tak pernah pindah dari radio swasta spesial dangdut. Kapan pula beliau masuk kamarku? Pertanyaan yang tak perlu dijawab, karena situasinya dalam keadaan “perang”. Di kamarku yang remang-remang, kulihat di bawahku sesosok wanita cantik, yang berhari-hari aku rindukan kehangatan tubuhnya. Mbak Narsih merindukan kehangatan suaminya, dan aku ketagihan merasakan kehangatan tubuhnya. Meskipun keinginan itu menggebu, tapi aku tak berani meminta. Aku anak kecil. Aku hanya numpang hidup. Pokoknya aku di posisi yang lemah. Kini tiba-tiba saja kesempatan itu datang. Setelah memperoleh kesadaran penuh, timbullah dorongan hasrat yang sangat kuat. Aliran darahku terasa semakin cepat. O, Mbak Narsih, …… kamu adalah mimpi terindahku setiap malam. tusukanku semakin mantap. Kurasakan sudut-sudut liang rahimnya yang hangat. Memperoleh serangan balik yang dahsyat, Mbak Narsih memutar-mutar pantatnya. Pandangan matanya liar, mulutnya menganga, kadang-kadang menyeringai menahan kenikmatan yang merambati ujung-ujung syarafnya. Wajah cantiknya berubah ganas dan buas. tetapi wajah itu tidak membuat aku takut, malah semakin terangsang. Aku sudah lupa, bahwa wanita cantik yang menggeliat-geliat di bawahku adalah wanita yang seharusnya kuhormati. Karena begitu bersemangat sampai tempat tidurku yang sempit itu berkereyotan menimbulkan suara berisik.
“Sssshh…. Jangan berisik….Kkkuuunnnh….hhffff….nan…ti…Mas Prassss…..bang…bang…ngun..” tersengal-sengal Mbak Narsih memberitahu aku. Hah? Ada Mas Pras? Edan tenan. Aku kaget sekali. Tak terasa gerakanku melambat dan berhenti.
“Ayooo….. kenapa….terusss…keburu bangun dia….” Diangkat-angkatnya pantatnya. Kembali kulancarkan seranganku semakin cepat. Kurebahkan tubuhku di dada nya yang putih dan empuk itu. Kini jelas kulihat wajahnya. Rambutnya awut-awutan. Napasnya yang panas menerpa wajahku. “Mas Pras sudah pulang Mbak?” tanpa menghentikan gerakan aku bertanya
“Sudah, Kun….. ah Masmu payah.” Kuhisap-hisap putingnya sambil kuremas bukit empuk yang putih itu. Tak tahan diisap dipeluknya tubuhku erat, sambil mencurahkan keluhan hatinya
“Aku belum apa-apa……Masmu sudah keluar…..langsung loyo dan tidur”
“Aku nggak bisa tidur, lalu nyetel radiomu. “ beliau berhenti ngomong lalu mencium bibirku. Kami berciuman dalam kesunyian malam dan iringan irama dangdut. Suara radio ini dimaksudkan untuk menutupi “kegaduhan” di kamarku ini. Setelah bibir kami lepas. Aku turun dari tempat tidur diikuti Mbak Narsih. Beliau langsung berdiri membelakangiku, pantatnya yang besar itu disodorkannya. Sudut kemaluannya yang gelap itu kontras dengan bokongnya yang putih. Kuarahkan penisku ke sana. Karena terlalu naik, tangan beliau membantu menuntun ujung tongkolku ke arah yang tepat. Lagi-lagi kurasakan kehangatan yang nikmat itu. Kubenamkan semakin dalam. Lubang itu terasa lebih sesak sekarang. Belum pernah aku dalam posisi begini. Batangku yang panjang terasa bisa masuk lebih dalam. Mbak Narsih merintih keenakan. “Terusssss…….,Kun…..cepet ke…..aahhh ….cepet….ayo kamu juga keuarkan…..” Aku pun sampai di ujung perjalanan, makin lama makin cepat. Lubang Mbak Narsih kali ini sudah becek sekali dan……”Kuuun…..aaaahhhhhhh……..” dipeluknya aku dengan sangat erat dan penisku terasa dijepit oleh benda lembut dan hangat yg berkedut-kedut. Kubenamkan dalam-dalam kemaluanku dan memancarkan cairan hangat ke liang senggama Mbak Narsih. Serrr….serrr…..ser…. Mbaaaakkkk……. Aduuuu…..aku keluar.” Beberapa saat kemudian beliau menghentikan semua gerakan , terduduk lemas di tepi tempat tidur. Setelah memperoleh kekuatan kembali, beliau beranjak keluar, menuju ke kamar mandi. Aku duduk di sofa kamar tamu menunggu beliau keluar dari kamar mandi. Masih bertelanjang, Mbak Narsih kembali ke kamarnya.
Aku segera mencuci “peralatanku” dan kembali ke kamarku.
Aku duduk di tepi tempat tidur dan merenung. Ada apa ini? Kucoba untuk merangkai-rangkai berbagai kemungkinan. Mas Pras tengah malam pulang. Pasti beliau sangat lelah. Mbak Narsih yang lama menunggu kedatangan sang suami, mungkin minta “oleh-oleh”. Karena factor kelelahan atau sebab lain, tugas Mas Pras belum tuntas. Wanita yang haus ini sudah lama berpuasa, tentu nafsunya berkobar-kobar. Ibaratnya bertepuk sebelah tangan, Mas Pras masih lelah. Lalu tidak mampu memberi kepuasan. Kira-kira begitu. Akibatnya, karena tidak puas, ibaratnya makan belum kenyang, lalu nambah. Mungkin, beliau ke kamarku, mempermainkan burungku, sehingga tegang. Begitu bisa dipakai, segera dimasukkan dan dipompa. Saat itulah aku terbangun. Aku juga tidak tahu penyebab sebenarnya. Aku tidak berani bertanya. Hanya saja badanku terasa pegal-pegal sekarang. Aku jatuh tertidur dan….. bangun kesiangan.
Aku takut keduluan Mbak Narsih. Segera aku bangun dan km dapur menyalakan kompor. Merebus air dan mencuci beras. Untung, beliau masih tidur. Kalau kedapatan aku bangun kesiangan, semua pekerjaan pasti beliau selesaikan dengan cepat dan rapi. Aku bisa mati langkah dan siap didiamkan berhari-hari. Lega rasanya. Sampai aku selesai mencuci pakaian dan nasi sudah masak mereka belum bangun. Aku ambil uang belanja di lemari dapur dan beli sayur ke warung. Pulang dari warung Mbak Narsih dan Mas Pras sudah bangun. Aku menyapa dengan sopan, “Mas,tadi malam ya pulangnya?”
“Heeh, gawekna kopi, le !” Mas Pras minta aku buatkan kopi. Kuseduh kopi kental tanpa gula. Itu minuman favorit nya. Kutaruh beberapa bongkah gula jawa di mangkuk kecil.
“Wah, pinter kamu Kun. Uenake.. kopi pait karo ngemut gula jawa.” Katanya sambil menyeruput kopi hitam itu. “O, iyaa… kamu jadi sekolah nggak?”
Aku tersenyum gembira, “ Jadi, Mas. Besok Senin Mas Pras masih di rumah?”
“Pokoknya sudah kuberikan dananya dibawa mbakyumu. Minta saja. “ maksudku kuminta Mas Pras antar aku cari sekolahan, tapi mungkin beliau sudah harus kerja lagi. Ya, sudah nggak apa-apa Yang penting aku pasti sekolah.
“Kenapa harus sama Mas-mu, malu ya dianter mbakyumu” tanya Mbak Narsih, biasa nadanya galak, aku sudah terbiasa dengan sifatnya itu.
“Mboten, Mbak “ aku menjawab sopan dan menyatakan bahwa diantar Mbak Narsih aku juga mau

Karena semua pekerjaaan pai itu sudah kelar. Aku kembali ke kamar, untuk…..tidur. Lelah sekali badanku setelah “berjuang keras” semalam. Dari kamar kudengar mereka terus berbincang-bincang.
“Dik, keliatannya berat badanmu tambah ya?” kudengar suara Mas Pras yang nge-bas.
“Kok tau?”
“Itu rokmu pada kesempitan.”
“Mas Pras, sekarang harus percaya. Harus yakin.” Sepertinya Mbak Narsih serius.
“Maksudmu kamu bener-bener bisa hamil?” masih datar suara Masku.
“Biar aja apa kata dokter, apa kata tabib, sinshe boleh berteori, Aku sudah berhenti 2 bulan lho Mas. Lihat, nih perutku. Lho, …tambah lebar. Wudelku…tambah monyong.” Kubayangkan, pasti Mbak Narsih, membuka roknya dan memamerkan perutnya yang putih mulus itu.
“Dik Narsih,……. Sungguh bahagia aku hari ini…..akhirnya aku bisa….oh…” tak ada lagi suara mereka bicara. Pasti mereka……kalau nggak berciuman ya berpelukan.
“Makanya, jangan lama-lama perginya, Mas” itu suara Mbak Narsih. Lalu sepi lagi. Peristiwa selanjutnya aku tak tahu, karena aku tidur sampai siang.
Tiga gari Mas Pras di rumah. Pagi itu dia harus berangkat. Jam lima pagi, kernetnya datang memberi tahu kalau muatan sudah dinaikkan. Sudah ditutup deklit ,tinggal berangkat.
“Kun, kamu cari sekolah yang deket-deket saja. Ngirit . Kalau bisa ar yang masuk siang, Biar ada yang membantu mBakyumu. Dia hamil, Kun. Aga Mbakyumu jangan sampai kelelahan.” Mas Pras berpesan sambil mengacak-acak rambutku dengan mesra.
“Inggih, Mas.” Saya antar sambil membawakan koper berisi pakaian Mas Pras ke truk yang sudah diparkir di ujung gang. Lik Tarjo, kernet setia, memarkir truk itu di situ.
Pagi itu juga aku diajak Mbak Narsih mencari sekolah buat aku. Aku pakai seragam SMP Negeri Dua Jogja, dan Mbak Narsih …….. ya ampun….. cantik banget. Pakaiannya sederhana, tapi cocok sekali dengan kulitnya dan tubuhnya yang tinggi semampai. Rambutnya yang agak kemerahan, menambah cantik wajahnya yang oval dihiasi biabir tipis, hidung bangir dan bulu mata yang lentk. Aku malu pada diriku sendiri, yang kecil dan hitam. Biar orang pada bilang aku hitam manis, tetap saja aku ini hitam.
Ada sebuah SMP Swasta di jalan Raden Patah. Masuk siang. Tidak jauh dari rumahku. Di kantor SMP itu Mbak Narsih menjadi pusat perhatian para guru, terutama bapak-bapak guru. Kalau kepergok Mbak Narsih mereka sedang memandangi dengan kagum, mereka terenyum ramah. Yang tidak enak kalau mareka melihat aku, pasti dengan pandangan curiga. Kalau adiknya kok tidak mirip. Kakaknya cantik, adiknya jelek, gelap lagi. Tetapi kalau pembantunya kok selalu digandeng . Mungkin begitu yang mereka pikirkan. Saat wawancara kulihat Bapak Gur yang berkaca mata minus itu berkali-kali melirik ke belahan dada, Mbak Narsih yang terlihat , karena bajunya berkerah lebar dan rendah. Kalau Mbak Narsih tertawa, dadanya terguncang-guncang, Bapak Guru itu ikut-ikutan tertawa. Tetapi matanya selalu ke dada itu lagi. Dasar lelaki. (Eh, aku laki-laki juga, ya)
Aku tidak peduli. Yang penting aku sekarang sekolah lagi.
Bulan Juli, aku sekolah lagi. Sementara itu perut Mbak Narsih sudah semakin besar. Banyak pekerjaan yang tidak bisa dikerjakan lagi. Satu-satunya yang wajib dikerjakan adalah mengepel lantai. Menurut Bulik Saodah tetangga depanku, itu baik untuk proses persalinan nanti. Jam sebelas pagi, semua pekerjaan harus sudah selesai. Karena jam setengah dua belas harus berangkat sekolah. Jalan kaki lewat Pengapon, lewat Pasar Kobong, sampai sekolah sekitar setengah jam.
Praktis tenagaku sudah terkuras habis paginya. Di sekolah tinggal sisa-sisa tenaga. Erring aku berjuang keras melawan rasa mengantuk yang tak tertahan saat jam pelajaran. Sisi baiknya mengulang di kelas yang sama terasa amat mudah. Apalagi SMP swasta itu menurut penilaianku levelnya jauh di bawah SMP ku di Jogja. Senang sekali bisa bersekolah lagi. Karena aku dikira anak pandai, banyak yang suka bertanya peer. Kalo ulangan pada minta contekan. Pokoknya seru, deh.
Pulang sekolah sampai di rumah hampir maghrib. Melihat rumah gelap, yang pertama kulakukan adalah menyalakan lampu pompa. Aku kasihan sama Mbak Narsih. Beliau nggak bisa menyalakan lampu Petromax. Masih berpakain seragam, kutengok keadaan dapur, jemuran dan kamar mandi untuk mengetahui mana yang belum beres. Tetapi semua sudah rapi, kecuali air di kamar mandi kosong. Aku menimba air memenuhi bak mandi.
“Wis Kun, nanti saja ngisinya. Kamu lelah.” Lemut sekali beliau menyapaku.
“Cuma untuk mandi aku, kok Mbak.” Aku segera mandi. Rutinitas seperti itu terjadi setiap hari.
Aku biasa mengerjakan peer dan belajar sampai malam. Jarang aku bisa ngobrol-ngobrol lagi. Aku benar-benar tenggelam dengan situasi baruku. Banyak guru yang kukenal baik dan mereka suka padaku. Sebenarnya aku biasa-biasa saja. Tetapi karena banyak teman yang bodoh dan nakal, maka di situ aku dianggap anak yang sopan dan pandai. Aku semakin merasa diterima . Aku sebenarnya melupakan sesuatu karena kesibukan sekolahku itu. Mbak Narsih.
Dengan pertnya yang semakin membesar beliau sering menemani aku mengerjakan peer atau belajar. Sering beliau mengajak bicara, tetapi aku menjawab seperlunya, karena aku konsentrasi ke pelajaran.
Saat itu sedang banyak ulangan. Aku sedang tenggelam dalam keasyikan belajar. Kuakui aku memang kutu buku. Matematika adalah pelajaran favoritku. Aeperti biasa, beliau duduk di sampingku, aku sibuk menulis dan mngerjakan soak-soal atau menjawab peer. Aku heran, kenapa sejak tadi Mbak Narsih tidak bertanya. Aku merasa ada yang tidak wajar.
“Mbak, kalau sudah ngantuk sare dulu, to?” aku berbasa-basi sambil menoleh. Aku terkejut melihat mata beliau basah. Air matanya mengalir di piinya yang sekarang tampak tembem.
“Mbak,……………….kenapa?” aku menghentikan aktifitasku.
“Nggak apa-apa. teruslah belajar, kamu memang anak rajin, tekun dan baik.” Jawabnya diserati isak tangis tertahan. Apa maksudnya, ya?
“Kamu dan Mas Pras sama saja, ya. Semua sibuk.” Kini tangisnya pecah. Aku bingung. Sebagai anak-anak aku belum bisa memahami perlunya memberi perhatian pada orang tua. Tetapi kini aku sadar, bahwa selama ini, aku melupakan kehadiran Mbak Narsih. Hatiku tersentuh oleh isak tangisnya. Secara naluriah kupegang tangannya. Kugenggam erat.
“Mbak……. Maafkan Kun. Aku bener-bener keterlaluan. Aku salah, Mbak…..” tak bisa kulanjutkan kata-kataku. Dadaku penuh keharuan. Mataku jadi panas dan basah. Kupeluk beliau dengan penuh perasaan menyesal. Mbak Narsih tetap menangis dan sikapnya pasif sekali. Kucium tangannya, kuciumi pipinya diaaaam saja. Aku menjadi serba salah. Karena malam semakin larut dan Mbak Narsih tidak juga masuk kamar, masih tetap duduk di sofa. Aku ambil inisiatif. Kuambil selimut dan bantal. Kurebahkan beliau di sofa. Menurut saja. Kuselimuti diam saja. Malam itu aku menunggui beliau tidur di sofa, aku tidur di karpet di bawah sofa. Subuh pagi aku dibangunkan, disuruh mengantar ke kamar mandi. Kutuntun beliau. Tanpa menutup pintu beliau langsung mengangkat daster dan jongkok. Soorrrrrrr….
Aku jadi tau, bahwa orang hamil itu suka bermanja-manja. Suka minta yang aneh-aneh. Mulai hari itu aku lebih banyak memperhatikan keadaan beliau.
“Kun, aku pengin dimandiin seperti waktu aku sakit dulu itu, lho”
“Baik, Mbak.” Aku siapkan air hangat dan lap pel. Kumasukkan kursi kayu ke kamar mandi.
Tanpa ada rasa malu sedikitpun beliau langsung telanjang di hadapanku. Lucu juga melihat bentuk tubuhnya. Perut maju, pantat semakin lebar. Putting susu jadi hitam dan lebar kini bongkahan bukit kembar yang putih itu semakin melebar saja. Kupandangi semuanya itu dengan pebuh kekaguman. Apa bisa orang hamil itu “digituin” ya? Aku berpikiran ngeres. Badanku terasa panas dan penisku semakin mengeras. Kini beliau sudah duduk. Segera kuguyur tubuhnya dengan air hangat. Tibunya kini bercahaya bagai dilapisi kaca. Kusabuni punggungnya. Pantatnya,. Penginnya aku menyabuni bagian depan. Susunya sangat menantang untuk disentuh, tapi aku masih jaim.
Mbak Narsih rupanya tidak sabar dengan sikapku yang sok jaim itu. Dipegangnya tanganku yang membawa sabun. Di arahkan ke dadanya. Saat kusabuni, benda kembar itu terayun-ayun. Aku tau beliau paling suka kalau sambil diremes, Bener juga, beliau mendongak ke atas menahan nikmat.
Kini tangaku berada diperut beliau. Aku jongkok di hadapan beliau. Kemaluan beliau Nampak jelas. Ditumbuhi rambut jarang. Kusabun perutnya dulu, makin lama makin turun. Akhirnya sampailah jariku di tepi “hutan” Tak sabar jariku segera menyentuh si merah kecil. Begitu kena sentuhan, desisnya semakin jelas terdengar. Ketika aku berdiri mengambilkan sabun, tiba-tiba langkahku tertahan karena celanaku diturunkan, padahal aku sedang tidak mengenakan CD.
“Kamu duduk di situ.” Mbak Narsih berdiri. Aku duduk di kursi dengan batang tegak teracung.
Mbak Narsih pelan-pelan mengarahkan pantatnya dan duduk dipangkuanku.
“Lho, Mbak…….nggak apa-apa?” tapi sebagai jawaban pantat nan putih itu semakin turun. Satu tangan beliau memegang penisku mengarahkan ke lubangnya. Masuknya “si hitam” ke lubang kenikmatan itu disertai desisan yang punya lubang. “Oohhhh….sssssh” Pantat beliau naik turun diiringi bunyi crop…crop….crop…..
“Enak…..banget Kuuuun…..hhh….hhh…..hhhh…..”
Aku mengambil gayung lalu kuguyur badannya yang penuh sabun itu. Aliran air hangat itu menambah nikmat persetubuhan aneh itu. Kuguyur lagi sambil kugosok punggung dan pundaknya. Begitu terus menerus sambil aktif naik turun beliau tetap kumandikan. Dari pantulan cermin di kamar mandi, kulihat susunya terayun-ayun indah saat pantatnya aktif naik turun. Kedua tanganku meraih kedua bukit kembar itu. Kubelai-belai dan kupelintir puting hitam besar itu.
“Aaaahhhh……terussss….kamu pinter….Kun…..” gerakan naik turunnya melemah, kelelahan juga akhirnya. Sekarang Mbak Narsih duduk di bibir bak mandi yang cukup rendah dan lebar. dibukanya lebar-lebar kedua pahanya. Lubang kenikmatannya yang sudah amburadul itu menganga. Sikunya bertelekan di tembok. Sambil berdiri kumasukkan lagi “tongkat ajaib” yang disukai Mbak Narsih itu. Dalam posisi tengadah seperti itu kukira lubang itu akan semakin lebar dan kendor. Tetapi aneh, malah tambah seret dan menggigit. Kamar mandi itu menjadi ajang “pertempuran aneh” Perutnya yang membuncit bergoyang-goyang saat kusodok-sodok. Baru tau aku sekarang. Ternyata orang hamil, masih suka “main”, Menurutku malah lebih “hot”
“Kuuuuunnn….. jangan …..tinggalkan Mbak Narsih……”
“Tidak lagi…Mbak.”
“Addduuuuu……kono kuwi Kun…….enaaaaakkkkk…….”
“Mbaaaaak……. Tempikmu…..anget banget, Mbak……..”
“Teruussss……yang dalam…..dalam…….”
“Mbaaaakkkk…..aku nggak tahan lagi…….ayo Mbaak.”
“Ooohhhh….ssshhh……aku….aku……juga……hampiiiiirr…….Ku uun”
Mbak Narsih memutar-mutar pantatnya dan aku menghunjam semakin dalam. Gelombang kenikmatan datang bergulung-gulung…….nafas kami berdua terpantul berisik oleh dinding kamar mandi beratap seng. Keringatku membanjir demikian pula Mbak Narsih. Bau sabun wangi yang bercampur bau keringat menimbulkan suasana aneh yang sangat merangsang. Akhirnya tak kuat lagi kami menahan datagnya tsunami kenikmatan itu. Pancaran spermaku terasa deras menyemprot dinding rahim beliau yang juga banjir. Karena licin, tubuh Mbak Narsih kepleset nyemplung utuh ke bak mandi. Untung bak mandinya rendah dan berisi penuh air, sehingga tidak terasa sakit. Kubantu untuk mentas. Kini aku sendiri mandi jebar-jebur membersihkan diri. Mbak Narsih membantu menggosok punggungku. Handuk kita pakai berdua. Masih bugil, kutuntun Mbak Narsih ke kamarnya. Beliau tidak ambil ganti pakaian malah tiduran. Aku ditariknya untuk ikut tidur. Padahal sudah jam setengah sembilan pagi.
“Kun……..bawa sini manukmu……”
“Mau apa Mbak…..”
Tak banyak bicara…. Segera mulutnya menciumi burungku yang kini tegang lagi. Melihat benda ini bertambah panjang dengan cepat, tak sabar Mbak Narsih memasukkan ke dalam mulutnya. Aku jadi berkelojotan. Rasanya geli-geli nikmat…..
“Kun, puasi aku. Kamu biarkan Mbak Narsih kesepian sejak kamu sekolah. Ayo hari ini kamu nggak boleh masuk.” Adduuh, padahal ada ulangan dan aku sudah belajar mati-matian.
Memang benar-benar gila sex wanita satu ini. Pagi itu aku melayani beliau sampai jam sebelas. Belum belanja, belum masak. Pagi yang melelahkan. Seharian beliau bermanja-manja. Makan minta disuapi. Mandi harus ditunggui. Mengingat pesan Mas Pras, ku rela tidak masuk hari itu.
 
Support Site : About US | Privacy Policy | Terms Of Use | Contact US
Copyright © 2011. Night.Dream - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Blog Published by Night.Dream
Proudly powered by Google Indonesia